Jakarta (ANTARA) - Perjanjian perdagangan bebas Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dapat menjadi kontributor dalam upaya pemulihan pascapandemi COVID-19 di kawasan itu, menurut pernyataan gabungan ASEAN yang dirilis pada Minggu (18/9).

Pernyataan itu dirilis setelah Pertemuan Para Menteri RCEP pembuka yang digelar di Provinsi Siem Reap, Kamboja barat laut, di sela-sela Pertemuan Para Menteri Ekonomi ASEAN ke-54.

Menurut pernyataan tersebut, pertemuan itu menyambut baik pemberlakuan perjanjian RCEP pada 1 Januari 2022 dan menantikan ratifikasinya oleh seluruh negara partisipan.

Pakta perdagangan megaregional tersebut terdiri dari 15 negara Asia-Pasifik termasuk 10 negara anggota ASEAN, yakni Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, serta lima mitra dagang mereka, yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

"Pertemuan itu membagikan pandangan bahwa RCEP dapat berkontribusi terhadap upaya-upaya pemulihan pascapandemi di kawasan ini dan dalam menciptakan rantai pasokan yang lebih tangguh," sebut pernyataan itu. "Dalam hal ini, pertemuan tersebut menyoroti kebutuhan untuk mendukung pemanfaatan perjanjian RCEP yang lebih besar guna memperdalam integrasi ekonomi regional."
 
   (Xinhua)


Pertemuan itu juga menyebutkan kemajuan dalam pekerjaan Komite Gabungan RCEP dan menyambut baik pembentukan badan-badan pendukung di bawah pengawasan komite gabungan itu, imbuh pernyataan tersebut. 

"Pertemuan itu mendorong para pejabat untuk berupaya memperluas pemanfaatan perjanjian RCEP serta memantau dan meninjau pelaksanaan perjanjian RCEP guna meningkatkan kualitas lingkungan bisnis di kawasan ini," papar pernyataan itu.

Selain itu, pertemuan tersebut berharap Sekretariat RCEP dapat segera dibentuk, dengan persyaratan yang akan disepakati oleh para pihak, untuk memberikan dukungan sekretariat dan teknis kepada Komite Gabungan RCEP dan badan-badan pendukungnya, tambah pernyataan itu.

"Kesepakatan perdagangan RCEP merupakan instrumen penting untuk mendorong pemulihan ekonomi pascapandemi di kawasan ini," kata Juru Bicara sekaligus Wakil Sekretaris Negeri Kementerian Perdagangan Kamboja Penn Sovicheat dalam konferensi pers setelah pertemuan itu.

"Bagi Kamboja, RCEP menyuntikkan momentum baru ke dalam pertumbuhan perdagangan luar negeri kami, dan kami menyaksikan peningkatan yang luar biasa dalam ekspor kami ke negara-negara anggota RCEP pada paruh pertama tahun ini," tambahnya.

Menurut Sovicheat, total ekspor Kamboja ke negara-negara anggota RCEP meningkat menjadi 3,28 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp14.939) selama periode Januari-Juni 2022, naik 10 persen dari periode yang sama tahun lalu.
 
(Xinhua)   


Thong Mengdavid, seorang peneliti di Asian Vision Institute yang berbasis di Phnom Penh, mengatakan RCEP membentuk blok perdagangan terbesar dalam sejarah dunia, yang mencakup hampir sepertiga dari total populasi global, sekitar 30 persen dari produk domestik bruto (PDB) global, dan 28 persen dari perdagangan global.

"Dengan arus bebas produk dan hambatan perdagangan yang lebih longgar di antara 15 negara anggota, RCEP memberikan berbagai manfaat dan peluang bagi blok tersebut untuk mendiversifikasi pasar mereka dan meningkatkan kemampuan produksi," ujarnya kepada Xinhua.

"Selain itu, RCEP akan meningkatkan peran multilateralisme berdasarkan tatanan internasional berbasis aturan, dan untuk selanjutnya, mendorong lebih banyak kerja sama dan aktivitas perdagangan damai di kawasan ini," imbuh Mengdavid.


 

Pewarta: Xinhua
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2022