Pangkalpinang (ANTARA News) - Penyakit malaria yang melanda Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) selama tahun 2005 telah merenggut 12 nyawa warga setempat, terbanyak di Kabupaten Bangka dengan korban meninggal 11 jiwa. "Kondisi topografi, banyaknya rawa serta kolong-kolong bekas tambang inkonvensional menjadi pemicu banyaknya kasus malaria," kata Kepala Sub-Dinas (Kasubdin_ Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Babel, Farida Bey M.Sc, Sabtu. Dari 981.573 orang penduduk provinsi "serumpun sebalai" itu, menurut dia, penderita malaria klinis mencapai 36.901 orang. Dalam mengatasi berjangkitnya malaria, termasuk dilokasi-lokasi tambang, aparat dinas kesehatan setempat akan melaksanakan penyemprotan dinding rumah dengan insektisida, serta program pemakaian kelambu di rumah-rumah penduduk. Untuk program pemberian bantuan kelambu tahun 2006, menurut dia, disediakan sebanyak masing-masing 150 kelambu bagi penduduk yang bertempat tinggal di lokasi-lokasi rawan malaria, di enam kabupaten dan satu kota. Kegiatan pengobatan massal juga sudah dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan darah bagi ratusan warga serta penderita positif malaria langsung diberi obat-obatan untuk proses penyembuhan, ujarnya. Penyakit malaria yang disebarkan nyamuk anopheles, menurut dia, sebenarnya bisa dihindari bila warga memiliki kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, dan bila ada tempat air tergenang harus diusahakan dilakukan penyemprotan. "Meski fakta di lapangan sulit diterapkan, tapi pencegahan malaria melalui pemusnahan vektor penularnya perlu dilakukan," ujarnya. Banyaknya korban juga diakibatkan ketidakdisiplinan penderita mengkonsumsi obat anti-malaria, seperti pil kina. Terkadang penderita malaria ketika mendapatkan obat untuk satu minggu hanya mengkonsumsi selama dua hari, karena mereka menilai penyakitnya sudah sembuh lantaran demamnya berkurang. "Sikap seperti itu malah menyebabkan tubuh resistan terhadap obat-obat malaria dan ketika penyakitnya kumat, maka proses penyembuhan lebih rumit, dan bahkan bisa menimbulkan kematian," demikian Farida Bey. (*)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2006