Artikel

Pembahasan di Sherpa G20 Yogya lancar meski ada tantangan geopolitik

Oleh Ahmad Buchori

Pembahasan di Sherpa G20 Yogya lancar meski ada tantangan geopolitik

Pelaksanaan Pertemuan Ketiga Jalur Sherpa G20 di Yogyakarta, Selasa (27-9-2022). Dok. Humas Kemenko Ekonomi

Semua negara hadir mencari solusi bersama dan membuat rekomendasi untuk mengatasi isu-isu global
Jakarta (ANTARA) - Pertemuan Ketiga Sherpa G20 di Yogyakarta telah berjalan dengan baik dan lancar. Pertemuan membahas rancangan Deklarasi Pemimpin (Leaders’ Declaration) G20 yang akan dibawa ke KTT G20 di Bali November mendatang.

Meski ada tantangan geopolitik saat ini, Pertemuan Ketiga Sherpa G20 itu terus mengupayakan agar isu-isu yang dibahas dalam Sherpa Track dapat disepakati dan menghasilkan usulan solusi dan rekomendasi yang kuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dunia.

“Sebagian besar substansi sudah disepakati oleh para Sherpa G20 dan nanti pada level Sous Sherpa akan dilanjutkan pembahasan lebih teknis untuk menyepakati concrete deliverables yang diharapkan akan bermanfaat secara nyata untuk seluruh dunia,” kata Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian RI Edi Prio Pambudi selaku Co-Sherpa G20 Indonesia.

Pertemuan itu sendiri terbagi atas enam sesi pembahasan. Pertemuan itu dipimpin bersama oleh Edi Prio Pambudi dan Co-Sherpa G20 Indonesia lainnya Dian Triansyah Djani.

Deklarasi Pemimpin merupakan komitmen dari Pemimpin G20 terhadap upaya bersama dalam pemulihan ekonomi dan kesehatan pascapandemi COVID-19.

Rancangan deklarasi itu berisikan substansi pembahasan prioritas Presidensi G20 Indonesia yakni Arsitektur Kesehatan Global, Transformasi Digital, dan Transisi Energi.

Deklarasi juga membahas mengenai isu ketahanan pangan yang menjadi isu global saat ini.

Pertemuan juga meng-endorse concrete deliverables. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo agar Presidensi G20 Indonesia dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia serta meningkatkan peran dan profil Indonesia pada forum G20, maka Presidensi G20 Indonesia mengenalkan pendekatan baru dalam menghasilkan concrete deliverables, yaitu proyek, program, atau inisiatif sebagai manfaat nyata dan bentuk konkret.

Proyek-proyek dimaksud sejalan dengan prinsip presidensi yaitu lead by examples bagi pembangunan yang berkelanjutan, riil, dan konkret dengan memanfaatkan kerja sama internasional yang melibatkan peran multi-stakeholders.

Melalui upaya percepatan realisasi deliverables proyek-proyek tersebut, Presidensi G20 Indonesia diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dan menjadi legacy Indonesia bagi G20.

Dalam pembahasan selama pertemuan ketiga Sherpa G20 di Yogyakarta yang diawali oleh resepsi penyambutan yang diselenggarakan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut, semua negara hadir dan sepakat untuk mencari solusi dan jalan keluar atas berbagai isu dan permasalahan global.

Suasana pertemuan yang diawali dengan minum bir jawa, minuman khas Yogyakarta, pada resepsi makan malam itu digambarkan sangat kondusif, dengan semangat saling mendukung untuk mencari solusi bersama, dengan mempertimbangkan berbagai perbedaan dan kepentingan yang ada.

Kredibilitas G20

Menurut Edi Pambudi, terlihat komitmen yang kuat dari Sherpa G20 untuk mendorong tercapainya konsensus di tingkat Kepala Negara/Kepala Pemerintahan G20.

Sherpa sepakat untuk menegaskan dan melaksanakan komitmen yang telah disepakati pada forum G20. Dalam pertemuan ini, terlihat komitmen bersama negara G20 untuk tetap satu, dengan menawarkan solusi bagi permasalahan global yang terjadi dewasa ini.

Krisis energi, kelangkaan dan kenaikan harga pangan, inflasi, hingga keberlanjutan pemulihan pasca-COVID-19 merupakan isu yang tidak hanya dihadapi negara G20.

Isu tersebut juga berpengaruh bagi negara berkembang dan negara rentan. Sherpa menunjukkan komitmen nyata untuk menguatkan kredibilitas G20 bagi masyarakat global.

Pembahasan materi Deklarasi Pemimpin selama beberapa hari pada Pertemuan Ketiga Sherpa G20 yang berjalan lancar ini, tidak terlepas dari strategi pembahasan yang dimulai dari beberapa isu yang relatif mudah dan bisa diterima oleh semua negara, diikuti dengan berbagai pertemuan bilateral untuk melakukan lobi dan pendekatan dengan beberapa negara kunci untuk dapat tercapai kesepahaman dan kesepakatan.

Sebagai tindak lanjut, untuk pembahasan lebih lanjut di tingkat teknis dan membahas secara lebih detail substansi Deklarasi Pemimpin, akan dilanjutkan melalui pertemuan intersesi secara virtual, yang dijadwalkan akan dilakukan tiga kali selama Oktober 2022 ini, sebelum dilakukan finalisasi pada Pertemuan keempat Sherpa G20 di Bali pada bulan November 2022, menjelang pelaksanaan KTT G20.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso yang juga merupakan Ketua Sekretariat Gabungan Sherpa Track dan Finance Track Presidensi G20 Indonesia 2022, menambahkan bahwa Presidensi G20 Indonesia tetap menjaga keutuhan dan kekompakan seluruh negara anggota, sehingga Pertemuan Sherpa ini diharapkan akan dapat menyepakati draf Deklarasi Pemimpin yang akan disampaikan dan diadopsi pada KTT G20 pada November 2022 di Bali.

“Situasi pembahasan cukup dinamis, namun tetap mengedepankan semangat untuk bersama-sama menyelesaikan berbagai isu dan permasalahan dunia. Semangatnya kebersamaan dan menjaga kekompakan G20. Semua negara hadir untuk mencari solusi bersama dan membuat rekomendasi untuk mengatasi isu-isu global,” kata Sesmenko Susiwijono.

Pada 27-29 September 2022 telah diselenggarakan Pertemuan Ketiga Sherpa G20 di Yogyakarta. Pertemuan berjalan dengan mencerminkan semangat kebersamaan dalam mencapai agenda-agenda prioritas Presidensi G20 Indonesia 2022, agar bisa pulih secara bersama dengan lebih kuat.

Semua Delegasi Sherpa berkontribusi untuk mencapai konsensus bersama dalam Deklarasi Pemimpin. Semua juga mencarikan solusi dan jalan keluar untuk beberapa isu global yang terjadi sekarang, dan situasi ini yang harus terus dijaga.



Menurut Edi Pambudi, delegasi Sherpa telah membahas sebagian besar dari isi Deklarasi Pemimpin dan keseluruhan paragraf diupayakan agar dapat disusun dengan ringkas dan berorientasi pada tujuan yang akan dicapai.

“Sampai hari ini masih ada dinamika yang perlu dibahas, namun akan terus diupayakan dengan komunikasi yang berjalan cukup baik dan lancar,” ungkap Edi Pambudi.



Terkait dengan adanya tantangan geopolitik saat ini, Pertemuan ketiga Sherpa G20 terus mengupayakan agar isu-isu yang dibahas dalam Sherpa Track dapat disepakati dan menghasilkan usulan solusi dan rekomendasi yang kuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dunia.



Sebagian besar substansi sudah disepakati oleh para Sherpa G20, nanti pada level Sous Sherpa akan dilanjutkan pembahasan lebih teknis untuk menyepakati concrete deliverables yang diharapkan akan bermanfaat secara nyata untuk seluruh dunia.



Untuk melanjutkan pembahasan di tingkat teknis dan yang lebih detail dari substansi Leaders’ Declaration ini, dijadwalkan akan dilakukan pertemuan intersesi secara virtual, yang akan dilakukan tiga kali selama Oktober 2022, sebelum nanti dilakukan finalisasi pada Pertemuan keempat Sherpa G20 di Bali.



Selama perhelatan Sherpa Ketiga di Yogyakarta juga telah dilakukan berbagai aktivitas untuk mengenalkan budaya Indonesia yang beragam, seperti kunjungan ke Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan.

Hal ini juga menjadi bagian dari strategi agar pertemuan ini dapat membangun suasana yang kondusif sehingga Presidensi G20 Indonesia 2022 ini dapat mencapai kesepakatan bersama. Sesuai budaya Indonesia, delegasi dibuat merasa nyaman dan menikmati keberagaman budaya Indonesia.

“Kami mengemas acara welcoming reception, gala dinner, dan site visit secara khusus, selain mempromosikan budaya nasional, juga menyampaikan filosofi bagaimana Indonesia mengelola keberagaman, toleransi, sehingga perbedaan bisa dicari jalan tengah dan solusinya,” kata Edi Pambudi. ***1***











Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar