Ada dua faktor yang membahayakan dari gas air mata itu pada manusia, karena konsentrasi senyawa atau kepekatan zat dan durasi atau lamanya gas tersebut terhirup
Mataram (ANTARA) - Ahli kesehatan Rumah Sakit Universitas Mataram (RS Unram), Nusa Tenggara Barat, dr Wahyu Sulistya Affarah, MPH SpKL, menyebutkan ada dua faktor gas air mata yang dapat membahayakan tubuh manusia yaitu faktor kepadatan zat dan faktor durasi.

"Ada dua faktor yang membahayakan dari gas air mata itu pada manusia, karena konsentrasi senyawa atau kepekatan zat dan durasi atau lamanya gas tersebut terhirup," katanya saat dihubungi ANTARA di Mataram, Jumat.

Dalam tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, usai pertandingan sepak bola antara tuan rumah Arema Malang dan Persebaya, Surabaya, sejumlah polisi menembakkan gas air mata kepada penonton, yang kemudian berdampak pada korban dan ratusan orang meninggal dunia.

Ia menambahkan akan lebih bahaya lagi jika kepekatan zatnya tinggi, lama waktu menghirup dan jarak dengan gas air mata terlalu dekat.

Dijelaskannya bahwa semakin tinggi kepekatan zatnya maka semakin bahaya gas air mata tersebut dan jika terlalu lama menghirup gas tersebut akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

"Target utama mata dan sistem pernapasan, jika terkena gas itu dalam kurun waktu kurang dari satu menit setelah terkena gas itu akan menyebabkan iritasi pada mata," katanya

Respon mata terhadap gas air mata, kata dia, yaitu mata akan sering berkedip, bola mata akan membengkak dan bagi yang terkena akan merasa silau yang dimana dilihat dari cenderungnya memejamkan mata akibat perih.

Ia mengemukakan bahwa selain mata, gas air mata  ini juga berdampak hingga tenggorokan. Gejalanya, jika terkena di tenggorokan, yaitu terjadi peradangan, perih di tenggorokan, ada rasa terbakar di hidung, sering menguap, sesak dan dapat berpengaruh ke otak karena oksigen tidak sampai ke otak yang disebabkan gangguan pernapasan.

"Apabila gas air mata terkena air liur kemudian tertelan meskipun jumlahnya sedikit. pada beberapa orang, rasa tidak nyaman pada perut. Sebagian dari mereka merasakan mual, muntah dan diare," katanya.

Sementara itu, gas ini juga dapat memicu kumat bagi penderita asma dan penyakit pernapasan lainnya.

Ia menyebutkan, bagaimana cara menangani jika terpapar gas air mata.

"Yaitu dengan dibawa ke ruang terbuka, dibiarkan menguap dan diberikan oksigen tambahan, kecuali untuk kasus yang memang sudah berdampak lebih pada sistem organ lainnya maka perlu penanganan lanjutan," demikian Sulistya Affarah.

Baca juga: Pakar: Gas air mata picu dampak kronik berkepanjangan pada penderita

Baca juga: Kemenkes: Penggunaan gas air mata perlu kesepakatan lintas sektor

Baca juga: Pakar Kesehatan UM Surabaya jelaskan bahaya gas air mata


Baca juga: Menelaah penerapan aturan FIFA dalam Tragedi Kanjuruhan

*Elsa*Ajeng*Elvi*Nova adalah mahasiswa Unram magang

Pewarta: Riza Fahriza dan Elsa
Editor: Andi Jauhary
Copyright © ANTARA 2022