Jakarta (ANTARA) - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menekankan pentingnya menonjolkan semangat menuntut ilmu dan moderasi beragama oleh para santri untuk menghadapi intoleransi dan ideologi radikal ekstremisme.

"Pada hari santri, semangat yang harus ditonjolkan yaitu kita harus selalu belajar dan belajar serta selalu meningkatkan literasi referensi," kata Ketua Kajian Aswaja Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah H. M. Ulil Albab Djalaluddin melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Hal itu ia sampaikan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati 22 Oktober setiap tahunnya.

Baca juga: Menag berpesan ke santri di Korsel agar jaga citra Indonesia

Baca juga: Kemenag gelar Kongres Aksara Pegon untuk pertama kali 21-23 Oktober


Artinya, sambung dia, ketika ingin menjadi santri yang moderat, maju maka tentunya harus menggali, mempelajari kutubus salaf yaitu kitab-kitab warisan ulama salaf.

Ia mengatakan HSN yang akan jatuh pada 22 Oktober identik dengan peristiwa resolusi jihad yang difatwakan oleh Hadaratus Syeck KH. Hasyim Asy'ari menandai pentingnya peran santri, pesantren dan umat islam berjihad khususnya dalam konteks kekinian.

Dijelaskan nya, jihad tentunya sesuai dengan profesi nya. Untuk kondisi saat ini, menjadi mujahid fisabilillah bukanlah mengangkat pedang. Jihad di era milenial lebih disesuaikan dengan dengan profesi.

Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab, kewajiban jihad sejati nya hanya sebagai perantara. Sebab, tujuan jihad adalah memberi pencerahan kepada umat. Hal itu dilakukan tanpa dengan angkat senjata.

Menurutnya, jihad oleh santri lebih kepada membangun argumentasi keagamaan untuk melawan kelompok dan ideologi yang menyimpang dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu perlu dilakukan karena santri masa kini dihadapkan beragam tantangan kebangsaan dan keagamaan berupa maraknya intoleransi beragama. Bahkan, ekstremisme yang menjurus pada kekerasan dan teror.

Baca juga: Digitalisasi pegon hingga mayoran jadi rangkaian acara Hari Santri

Aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) ini juga menyinggung terkait mulai munculnya riak-riak propaganda politik identitas menjelang tahun politik mendatang. Santri di wanti-wanti bertawasut (bersikap tengah, tidak fundamentalis atau terlalu liberalis) serta menguatkan pemahaman.

"Sejati nya siyasah atau politik adalah mengupayakan bagaimana masyarakat itu selamat dunia dan akhirat," jelasnya.

Ia menyarankan agar tidak memilih pemimpin yang memiliki indikator mengarah pada memecah belah masyarakat, terlebih memainkan politik identitas.

Untuk itu, ia menekankan para santri dan masyarakat pada umumnya harus cerdas mencari pemimpin yang adil, nasionalis, berwawasan kebangsaan yang luas serta religius.

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Chandra Hamdani Noor
Copyright © ANTARA 2022