Jakarta (ANTARA) - Mantan pebalap Budiyanto Imam Suyanto menyatakan telah beralih menggunakan produk tembakau alternatif sejak delapan tahun lalu demi menciptakan kualitas hidup lebih baik.

Pebalap yang kini dikenal dengan nama Budi JVS (Jakarta Vape Shop) itu bercerita, delapan tahun lalu dia merupakan perokok berat karena mengonsumsi rokok hingga tiga bungkus dalam sehari.

Namun, karena ingin memperbaiki kualitas kesehatan maka dirinya beralih ke rokok elektrik, salah satu jenis dari produk tembakau alternatif. Sejak menggunakan rokok elektrik, Budi merasakan dampak yang lebih baik bagi tubuhnya.

“Saya merasa jauh lebih baik,” kata Budi pada Minggu (6/11), menambahkan bahwa ia terbebas dari bau rokok yang menyengat dan menghemat biaya dokter gigi karena tidak lagi mengalami penumpukan karang gigi.

Selain itu, karena produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap, tidak ada lagi residu yang menempel di baju hingga furnitur. Dia juga tidak lagi mendapati rasa asam pada mulutnya saat bangun tidur.

Tidak hanya manfaat pribadi, Budi mengaku keputusannya untuk beralih membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, terutamanya bagi istrinya.

Mengingat begitu banyak manfaat yang sudah dirasakannya sebagai konsumen produk tembakau alternatif, Budi berharap pemerintah bisa lebih terbuka dengan kehadiran produk-produknya di Indonesia. Keterbukaan tersebut bisa diwujudkan lewat adanya perbedaan perlakuan, seperti penerbitan regulasi yang dibuat secara khusus untuk produk tembakau alternatif.

Menurut Budi akan sangat tidak adil jika aturan terhadap produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, dibuat secara khusus dan disamakan dengan rokok.

“Industri produk tembakau alternatif ini baru. Jadi harus diberikan perlindungan oleh pemerintah,” kata dia.

Baca juga: Kemenkeu paparkan pertimbangan kenaikan cukai rokok

Baca juga: Sri Mulyani: Pemerintah naikkan tarif cukai rokok 10 persen pada 2023

Baca juga: Asosiasi: Rokok elektrik tak berpotensi sebabkan gagal ginjal akut

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2022