Indonesia perkuat komitmen isu perubahan iklim di Bright Green Summit

Indonesia perkuat komitmen isu perubahan iklim di Bright Green Summit

Duta Besar RI untuk Swedia Kamapradipta Isnomo (kedua dari kanan) bersama dengan Dubes Prancis, Jerman, dan Australia untuk Swedia menjadi anggota panelis pada sesi "Perspektif Nasional dalam Transisi Hijau" dalam kegiatan Bright Green Summit Kedua di Stockholm pada Selasa (22/11/2022). (ANTARA/HO-KBRI Stockholm)

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia menyatakan akan memperkuat komitmen pada isu-isu penanganan perubahan iklim, keberlanjutan (sustainability) dan energi terbarukan pada acara Bright Green Summit di  Stockholm, Swedia.

Pernyataan penguatan komitmen itu disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Swedia Kamapradipta Isnomo bersama dengan Dubes Prancis, Jerman, dan Australia untuk Swedia yang menjadi anggota panelis pada sesi "Perspektif Nasional dalam Transisi Hijau" dalam kegiatan Bright Green Summit kedua, demikian menurut keterangan KBRI Stockholm pada Kamis.

Kegiatan Bright Green Summit diselenggarakan oleh Mundus International dan American Chamber of Commerce Chapter Sweden.

Tema utama yang diusung pada tahun ini adalah "Tanggapan Cepat Terhadap COP27”, dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, baik dari kalangan pemerintah, bisnis maupun akademisi, untuk saling bertukar pikiran atas hasil-hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB 2022 (COP27) serta implikasi dan langkah-langkah tindak lanjutnya.

"Dengan dihasilkannya berbagai kesepakatan dalam COP27 di Sharm el-Sheikh dan KTT G20 di Bali, seluruh pihak sepatutnya memanfaatkan momentum positif ini untuk terus tingkatkan komitmen dalam penanganan isu-isu perubahan iklim, keberlanjutan, dan energi terbarukan," kata Kamapradipta.

Pada kegiatan tersebut, Kamapradipta menjelaskan tentang beberapa langkah konkret Pemerintah Indonesia dalam menanggapi isu-isu perubahan iklim dan keberlanjutan, antara lain penciptaan Kerangka Transparansi Nasional yang sejalan dengan Kesepakatan Paris, komitmen untuk terus mengembangkan energi baru dan terbarukan, penerapan moratorium izin pembukaan lahan, serta pengurangan penebangan liar dan kebakaran hutan.

Para panelis dalam kegiatan itu sepakat bahwa transisi hijau membutuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan, tidak saja pemerintah, namun juga sektor bisnis yang perlu terus tingkatkan investasi dan kembangkan inovasi di bidang teknologi hijau dan berkelanjutan.

Terkait hal itu, Kamaparadipta menyampaikan bahwa Indonesia siap bermitra dan terbuka untuk investasi asing, terutama dari Swedia, yang memiliki misi dan visi serta komitmen untuk mengembangkan teknologi hijau di Indonesia.

"Dengan track record inovasi dan teknologi yang luar biasa, Indonesia sangat berharap perusahaan Swedia dan Eropa mulai melirik Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi untuk mengembangkan usahanya,” kata Kamapradipta.

"Contohnya, sebagai negara yang kaya dengan cadangan nikel, Indonesia siap berperan besar dalam global supply chain industri baterai dan pengembangan kendaraan listrik," lanjutnya.

Bright Green Summit tahun ini menampilkan sesi panel yang membahas berbagai isu relevan dengan transisi hijau, antara lain mobilitas, perdagangan dan investasi hijau, digitalisasi dan infrastruktur.

Beberapa perusahaan dan pihak yang turut berpartisipasi dan mendukung kegiatan tersebut, antara lain Microsoft, Coca-Cola, Lufthansa, dan Nasdaq.

Baca juga: Wamenkeu tegaskan komitmen Indonesia atasi perubahan iklim di COP-27
Baca juga: Luhut tegaskan Indonesia sangat peduli dengan isu perubahan iklim
Baca juga: Muhaimin: Indonesia semakin konkret tangani perubahan iklim

Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar