Singapura (ANTARA) - Saham-saham Asia melonjak pada awal perdagangan Kamis pagi, sementara dolar merosot karena investor masuk ke aset-aset berisiko setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell membuka pintu bagi perlambatan laju pengetatan moneter.

Dalam pidato yang ditunggu-tunggu, Powell mengatakan bank sentral dapat mengurangi laju kenaikan suku bunganya "segera setelah Desember", tetapi memperingatkan bahwa perang melawan inflasi masih jauh dari selesai.

Komentar Powell di Brookings Institution di Washington membuat ekuitas Wall Street melonjak, sementara dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah turun.

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang melonjak 2,0 persen pada awal perdagangan Asia.

Indeks membukukan kenaikan bulanan terbesarnya dalam hampir 30 tahun pada November, karena harapan untuk perubahan arah Fed menuju kenaikan suku bunga yang lebih lambat mengumpulkan dukungan, setelah empat kali kenaikan 75 basis poin berturut-turut. Namun indeks masih turun sekitar 17,5 persen sepanjang tahun ini.

Nikkei Jepang dibuka 1,0 persen lebih tinggi, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,85 persen. E-mini berjangka untuk S&P 500 naik 0,20 persen.

Kepala penelitian regional ING Robert Carnell mengatakan akan sangat sulit sekarang bagi The Fed untuk melawan ekspektasi pasar atas perlambatan kenaikan suku bunga.

"Tampaknya Ketua Fed Powell tidak mendapatkan memo untuk melawan harapan perubahan arah dan menjaga kondisi keuangan tetap ketat sebelum dia memberikan pidatonya," katanya.

"Jadi, mari berharap inflasi terus turun, atau ini mungkin terlihat seperti peluang yang terlewatkan."

Pasar saat ini menilai probabilitas 91 persen bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada 14 Desember, dan melihat peluang 9,0 persen untuk kenaikan 75 basis poin lainnya.

Saham China Daratan dibuka terangkat 1,2 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong melonpat 2,5 persen pada awal perdagangan setelah ditutup lebih tinggi sehari sebelumnya, menyusul pelonggaran langkah-langkah COVID-19 di kota Guangzhou.

Aktivitas pabrik China menyusut pada November karena pembatasan yang meluas mengganggu produksi produsen, sebuah survei sektor swasta menunjukkan pada Kamis, membebani lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga.

Imbal hasil surat utang pemerintah AS turun setelah komentar Powell dan tetap lebih rendah pada Kamis. Imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun turun 8,3 basis poin menjadi 3,618 persen, sedangkan imbal hasil obligasi 30-tahun turun 6,8 basis poin menjadi 3,755 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun, yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga, turun 5,2 basis poin pada 4,321 persen.

Mata uang safe-haven dolar juga kehilangan pijakannya, dengan indeks dolar - yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang utama termasuk yen dan euro - memperpanjang penurunan lebih dari 1,0 persen pada Rabu (30/11/2022) hingga Kamis, turun serendah 105,69.

Yen Jepang menguat 1,02 persen versus greenback di 136,65 per dolar, sementara sterling diperdagangkan terakhir di 1,2086 dolar, naik 0,25 persen.

Di pasar komoditas, harga emas naik ke level tertinggi dua minggu di awal perdagangan Asia pada Kamis. Emas spot bertambah 0,5 persen menjadi 1.776,95 dolar AS per ounce, sementara emas berjangka AS naik 1,73 persen menjadi 1.776,20 dolar AS per ounce.

Baca juga: Saham Asia berombak, investor hati-hati karena data China mengecewakan

Baca juga: Pasar saham Asia dibuka naik merespons kebijakan properti China

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2022