Beijing (ANTARA) - Karnaval dan festival  tradisional Paolong di wilayah Binyang, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China kembali digelar tahun ini dengan serangkaian perayaan dan kegiatan, yang menarik orang-orang baik dari China maupun negara-negara asing termasuk Indonesia, Jepang, dan Amerika, menunjukkan vitalitas besar pasar pariwisata China.

Suasana hiruk pikuk seperti itu hampir terhenti selama tiga tahun akibat COVID-19.

Suasana ramai menyelimuti Festival Paolong (Festival Naga Petasan) yang digelar di wilayah Binyang, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan.

Festival Paolong, atau secara harfiah diterjemahkan sebagai Festival Naga Petasan, dicantumkan dalam daftar warisan budaya takbenda nasional China pada 2008. Tarian naga itu memiliki sejarah ribuan tahun di Binyang.

Berbeda dari tarian naga biasa, petasan menjadi salah satu komponen yang paling mewakili tarian naga di wilayah tersebut.

Orang-orang akan melemparkan petasan yang menyala ke arah naga untuk mengusir roh-roh jahat dan menyampaikan doa bagi perdamaian serta kemakmuran untuk tahun depan.

Sebelum tarian naga itu digelar, warga setempat berkumpul di jalan-jalan tua untuk mendoakan leluhur mereka dan menikmati hidangan rumahan.

Menurut asosiasi naga petasan setempat, sekitar 70 naga buatan tangan ditampilkan selama festival itu.

"Dengan dukungan pemerintah setempat, budaya naga petasan telah diwariskan dengan baik dan hampir di setiap jalan di Binyang memiliki sebuah tim tarian naga. Ada sekitar 30 sampai 40 perajin termasuk kaum muda yang bisa membuat naga bambu tersebut," ujar Zou Yute, seorang pewaris pembuatan naga.

Dia menambahkan bahwa sederet produk budaya dan kreatif berbasis budaya naga petasan juga telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar pariwisata yang kian meningkat.

"Tarian naga petasan sangat menakjubkan. Ini kali pertama saya menyaksikannya dan itu benar-benar kenangan yang tak terlupakan," sebut Tommy Tanu Wijaya, seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi di Beijing Normal University.

Dia menikah pada Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek tahun ini dan datang untuk menikmati Festival Paolong bersama istri yang baru dinikahinya.

Tommy hanyalah salah satu dari ratusan ribu partisipan festival itu. Menurut pihak penyelenggara setempat, hotel dan restoran di wilayah tersebut semuanya sudah penuh dipesan selama festival.

Digelarnya kembali festival tradisional Paolong menjadi sebuah bukti dari pemulihan ekonomi China.

Dengan sebagian besar pembatasan COVID-19 dicabut di China dan puncak infeksi kini telah berlalu, Festival Musim Semi telah menyambut pasar pariwisata yang kuat.

Menurut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China, sekitar 308 juta perjalanan wisata domestik dilakukan pada periode tersebut, naik 23,1 persen dari periode yang sama tahun lalu dan mencapai 88,6 persen dari angka untuk liburan yang sama pada 2019. 

 

Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2023