Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan bahwa asma adalah sebuah penyakit yang belum bisa disembuhkan dan dapat menimpa semua usia tanpa terkecuali.

“Kita masih belum berani untuk mengatakan asma dapat sembuh. Asma tidak dapat sembuh sampai sejauh ini, namun dapat dikendalikan secara baik. Kalau ini terkontrol dengan baik maka penderita asma bisa hidup secara normal,” kata Anggota PDPI Arief Bachtiar dalam Konferensi Pers Hari Asma Sedunia yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Arief menuturkan hingga saat ini, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa penyakit asma bisa disembuhkan. Kurangnya kajian tersebut malah menimbulkan banyak mitos dalam masyarakat.

Menanggapi mitos-mitos tersebut, ia menekankan bahwa asma bukan penyakit anak anak, yang bisa sembuh seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Faktanya, asma bisa terjadi di usia yang lebih tua, bahkan dalam beberapa kasus asma baru muncul pada usia dewasa.

Baca juga: PDPI: 12 juta penduduk Indonesia menderita asma

Baca juga: PDPI: Olahraga bertahap bantu pasien asma perbaiki kualitas hidup


Meski belum bisa disembuhkan, ia turut menegaskan bahwa adanya anggapan bahwa asma merupakan masalah psikologis atau emosional adalah mitos belaka. Faktanya, walaupun asma bisa dipicu karena timbulnya rasa depresi, kecemasan atau stres, penyebab asma bukanlah psikologis.

Asma juga tidak termasuk ke dalam jenis penyakit menular, karena terjadinya asma disebabkan oleh adanya infeksi virus pernafasan seperti flu biasa dan flu sehingga memicu serangan asma muncul.

Pemicunya bisa berupa alergi seperti terhadap serbuk sari jamur dan bulu hewan peliharaan, paparan dari iritan dan polusi udara, infeksi pernafasan karena pilek atau flu, kondisi cuaca yang tidak menentu dan refluks gastroesofageal (gerd) akibat asam lambung naik.

“Yang perlu masyarakat pahami pada umumnya gejala asma adalah adanya sesak nafas atau nafas berbunyi. Namun, gejala yang paling banyak pada asma sebenarnya adalah batuk yang umumnya terjadi pada malam hari, kemudian hilang timbul secara periodik,” ujarnya.

Selain itu, ada masyarakat yang beranggapan bahwa penderita asma sebaiknya tidak melakukan olahraga. Padahal olahraga justru disarankan dokter untuk dilakukan pada setiap pasien asma melalui olahraga yang bersifat bertahap dan tidak menghentak-hentak.

Misalnya seperti berenang atau jalan ringan yang bisa membantu memperbaiki kualitas hidup pasien.

“Mitos lain yang beredar ini asma yang hanya dapat dikontrol dengan steroid dosis tinggi. Itu salah, pada beberapa kasus bahkan asma bisa dikendalikan dengan dosis rendah setiap harinya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu ia berharap masyarakat untuk tidak mempercayai hoaks dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, Arief juga berharap pasien asma bisa meningkatkan kualitas hidupnya melalui terciptanya lingkungan bersih yang terhindar dari asap rokok atau vape, rajin berobat bila gejala berlanjut dan menggunakan obat inhaler sesuai dengan ketentuan atau saran para dokter.

“Meskipun kita sudah menggunakan obat inhaler atau obat hisap dan semprot, ada mitos yang mengatakan penggunanya jadi ketagihan. Itu bukan ketagihan, tapi memang kita memerlukan obat itu untuk mengontrol asma kita,” katanya.*

Baca juga: PDPI minta spirometri disediakan di semua fasyankes guna deteksi asma

Baca juga: Senam asma bantu ringankan gejala asma


Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2023