Manager Manchester City Pep Guardiola memberikan arahan kepada pemain Manchester City saat sesi latihan jelang final Liga Champions di Ataturk Olympic Stadium, Istambul, Turki, Jumat (9/6/2023). ANTARA FOTO/REUTERS/Murad Sezer/rwa.

Terpuaskan

Gelandang bertahan bernama lengkap Rodrigo Hernandez Cascante dan menjadi jangkar ganda bersama John Stones yang aslinya bek tengah itu, adalah orang terakhir yang menyelamatkan City dari jalan buntu.

Tendangan kerasnya ke sudut kiri gawang Inter terlambat dihadang pemain-pemain Inter, sementara kiper Andre Onana terlihat sudah terlambat bereaksi.

Satu gol dari Rodri pada menit ke-68 itu sudah cukup menuntaskan perjalanan menawan nan nyaris sempurna City selama musim ini.

Mereka kembali mencetak sejarah dengan menjadi tim Inggris keenam setelah Liverpool, Manchester United, Nottingham Forest, Chelsea dan Aston Villa yang menjuarai kompetisi elite Eropa.

Setelah dua tahun lalu gagal di tangan Chelsea, sukses City dalam final kedua Liga Champions ini bahkan terasa manis karena menyaingi Manchester United sebagai tim Inggris yang memenangkan treble.

Inter yang tengah memburu gelar juara Eropa keempatnya nyaris merusak impian City, padahal sebelum laga final itu pun mereka dianggap kalah kelas dari The Citizens, bahkan disebut-sebut sebagai pertandingan yang tidak seimbang.

Baca juga: Inzaghi: Kami akan lakukan yang terbaik untuk lawan tim yang kuat

Inter masuk gelanggang dengan bekal peringkat ketiga Serie A Italia dan juara Copa Italia. Sebaliknya, City memasuki arena dengan bekal nomor satu di Inggris setelah menjuarai liga, ditambah juara Piala FA.

Tak hanya itu, menurut ClubElo.com yang melacak kinerja tim sepak bola berdasarkan peringkat Elo, Manchester City sejauh ini adalah tim terbaik di Eropa.

Dengan nilai peringkat 2.073, City mengungguli Inter sampai selisih 182 poin. City di puncak peringkat ini, sedangkan Inter pada posisi ketujuh. Itu untuk pertama kalinya sejak 1993, dua tim yang bertemu dalam final Liga Champions memiliki kesenjangan yang begitu lebar.

Keberbedaan peringkat itu tergambar dalam realitas lapangan di mana perjalanan City ke final jauh lebih berliku dan lebih teruji ketimbang Inter, terutama setelah menyingkirkan Bayern Munchen dan Real Madrid.

Perjalanan menawan City sendiri sudah terlihat dalam tiga musim terakhir yang membuat klub ini menjadi salah satu dari tiga tim terkuat di Eropa sejak 2020.

Mereka gagal dalam final 2021 melawan Chelsea, dan disingkirkan Real Madrid pada semifinal tahun lalu ketika sudah di ambang mencapai final kedua berturut-turut.

Namun, di Stadion Olimpiade Ataturk di Istanbul, Minggu dini hari tadi, perjalanan mereka mencapai kejayaan, akhirnya terpuaskan. City sungguh tim yang belajar dari kegagalan masa lalu.

Dua tahun lalu, pelatih mereka, Pep Guardiola, menganggap pemain-pemainnya gugup karena belum pernah merasakan partai puncak Liga Champions.

Baca juga: Guardiola: Tidak lengkap jika kami tidak memenangkan Liga Champions

Selanjutnya: Memiliki segalanya

Copyright © ANTARA 2023