Sydney (ANTARA) - Pasar saham Asia dibuka dengan suasana hati-hati pada Senin, setelah laporan pekerjaan AS yang beragam memicu kenaikan pada obligasi, tetapi rintangan baru terbentang di depan dalam bentuk angka inflasi AS dan China yang akan dirilis pekan ini.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang sedikit lebih rendah dalam perdagangan yang tipis, setelah kehilangan 2,3 persen minggu lalu.

Nikkei Jepang tergelincir 1,0 persen untuk menguji level terendah Juli. Ringkasan dari pertemuan Bank Sentral Jepang terakhir menunjukkan para anggota merasa membuat kebijakan imbal hasil lebih fleksibel akan membantu memperpanjang umur stimulus super longgarnya.

Sebaliknya, S&P 500 berjangka bertambah 0,2 persen dan Nasdaq berjangka 0,3 persen di awal perdagangan Asia.

Dengan sekitar 90 persen dari pendapatan S&P 500 yang dilaporkan, hasilnya 4,0 persen lebih baik dari perkiraan konsensus dengan lebih dari 79 persen perusahaan mengalahkan perkiraan Wall Street. Hasil yang akan dirilis minggu ini termasuk Walt Disney) dan News Corp.

Data harga konsumen AS yang akan dirilis Rabu (9/8/2023) diperkirakan menunjukkan inflasi utama naik sedikit ke 3,3 persen secara tahunan, tetapi inflasi inti yang lebih penting diperkirakan melambat menjadi 4,7 persen.

Analis di Goldman Sachs melihat risiko penurunan angka sebagian karena penurunan harga mobil, hasil yang mungkin membantu menjaga reli obligasi tetap hidup dan meningkat.

Di China, pasar mencari tanda-tanda deflasi lebih lanjut dengan harga konsumen tahunan diperkirakan turun sekitar 0,5 persen, dan harga produsen turun 4,0 persen.

Setiap kejutan positif akan menjadi ujian bagi obligasi pemerintah yang mengalami penurunan drastis awal pekan lalu menjelang membanjirnya pinjaman baru. Dalam hal ini, laporan penggajian beragam membantu membalikkan sebagian besar kerugian, terutama pada kecenderungan beli.

Pasar berjangka hanya menyiratkan peluang 12 persen untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September, dan 24 persen untuk kenaikan pada akhir tahun.

Michael Gapen, seorang ekonom di BofA, memperingatkan pasar masih mengharapkan terlalu banyak pelonggaran kebijakan tahun depan mengingat data ekonomi yang tangguh baru-baru ini.

"Kami sekarang memperkirakan soft landing untuk ekonomi AS, bukan resesi ringan yang kami perkirakan sebelumnya," tulis Gapen.

"Sementara pasar menyiratkan pemotongan Fed antara 120-160 basis poin pada 2024, kami memperkirakan hanya 75 basis poin," tambahnya. "Hanya ada sedikit alasan bagi Fed untuk segera melakukan penurunan suku bunga pada tahun 2024 ketika pertumbuhan positif dan pengangguran rendah."

Akibatnya, bank menaikkan perkiraan akhir tahun untuk imbal hasil dua tahun dan 10-tahun sebesar 50 basis poin masing-masing menjadi 4,75 persen dan 4,0 persen.

Pada Senin, imbal hasil dua tahun lebih tinggi di 4,80 persen, dengan 10-tahun di 4,06 persen.

Kemunduran dalam imbal hasil mengambil beberapa kekuatan dari dolar AS, yang dikutip di 141,90 yen dan di bawah puncak minggu lalu di 143,89.

Euro bertahan di 1,1000 dolar setelah bangkit dari palung 1,0913 dolar minggu lalu.

Penurunan dolar membantu emas bertahan di 1.942 dolar AS per ounce, setelah reli Jumat (4/8/2024) dari 1.928,90 dolar AS.

Harga minyak berdiri kokoh setelah reli selama enam minggu berturut-turut di tengah pengetatan pasokan. Kenaikan 17 persen di Brent dikombinasikan dengan tekanan ke atas pada harga pangan dari perang di Ukraina dan pemanasan global, merupakan ancaman terhadap harapan berlanjutnya disinflasi di seluruh negara maju.

Brent naik 17 sen menjadi diperdagangkan di 86,41 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 12 sen menjadi diperdagangkan pada 82,94 dolar AS per barel.


Baca juga: Saham Asia naik tipis, dolar melemah jelang laporan pekerjaan AS
Baca juga: Saham Asia jatuh setelah Fitch turunkan peringkat AS

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2023