Washington (Antara News) - Amerika Serikat, Rabu, mendesak China untuk melindungi hak-hak minoritas warga Uighur dan melaksanakan penyelidikan yang transparan terkait aksi kekerasan terbaru di kawasan itu yang menyebabkan 21 orang tewas.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Patrick Ventrell menyeru China untuk "mengambil langkah-langkah guna mengurangi ketegangan dan mempromosikan stabilitas jangka panjang di Xinjiang," wilayah luas dengan etnis yang terbagi di kawasan barat.

"Kami mendesak otoritas China untuk melakukan penyelidikan transparan dan menyeluruh terkait insiden ini dan untuk menjamin semua rakyat China - termasuk warga Uighur - perlindungan yang menjadi hak mereka," katanya.

Para pejabat Cina mengatakan bahwa petugas polisi dan para pekerja sosial - termasuk 10 orang masyarakat Uighur yang sebagian besar Muslim - termasuk di antara yang tewas dalam baku tembak, Selasa, di kawasan Barchuk. Pemerintah menyalahkan kekerasan itu pada "teroris".

Kelompok advokasi dan para ahli mengatakan China hanya memiliki sedikit bukti adanya terorisme terorganisir di Xinjiang dan menunjuk pada kebencian lama di antara warga Uighur atas kebebasan terbatas dan kehadiran warga mayoritas Han di kawasan itu.

Ventrell mengatakan Amerika Serikat "sangat prihatin" dengan diskriminasi terhadap suku Uighur dan warga Muslim lainnya di China.

"Kami mendesak pemerintah China untuk menghentikan kebijakan yang berusaha untuk membatasi praktek agama di seluruh China. Tapi kami terutama sangat prihatin tentang Uighur, "katanya.

China sering menyuarakan kemarahan pada kritik Amerika Serikat terhadap catatan hak asasi manusianya, meskipun dua ekonomi terbesar di dunia itu sering bekerja sama di bidang lain, termasuk perdagangan dan pada pertikaian dengan sekutu Beijing, Korea Utara.

Ventrell mengatakan bahwa duta besar Amerika Serikat untuk China, Gary Locke, kebetulan berada di Xinjiang pada Selasa sebagai bagian dari delegasi perdagangan Amerika Serikat yang termasuk di antaranya adalah perwakilan dari perusahan energi, kereta api dan angkutan, demikian AFP.
(G003)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013