Biker Indonesia Jeffrey Polnaja disambut meriah di Kanada

Biker Indonesia Jeffrey Polnaja disambut meriah di Kanada

Penjelajah dunia asal Bandung, Jeffrey Polnaja (50), saat mengawali perjalanan keliling dunia untuk kedua kalinya Ride for Peace yang dimulai dari Paris, (ANTARA/Zeynita Gibbons)

'It is good to have an end to journey toward, but it is the journey that matters in the end,'
London (ANTARA News) - Penjelajah dunia dengan sepeda motor Jeffrey Polnaja asal Indonesia membuat terkesan sekitar 100 penjelajah dunia lainnya saat menjadi pembicara di Kanada.

Dalam acara  "The Horizons Unlimited Adventure Evening" yang berlangsung di Holeshot Motorsport di British Columbia, Langley, Kanada.

Jeffrey mengungkapkan kisah perjalanan "Ride for Peace"  yang tengah dijalaninya..

"Saya satu-satunya petualang motor dari Asia yang pernah tampil di acara tersebut. 'It is good to have an end to journey toward, but it is the journey that matters in the end,'" kata pria yang akrab disapa Kang JJ dalam surat elektroniknya yang diterima ANTARA.

Menurut Kang JJ, sekitar100 penjelajah motor besar Kanada yang memenuhi ruangan Holeshot Motorsport dengan antusias yang tinggi mendengarkan presentasi "Ride For Peace" yang saat ini sedang singgah di Vancouver setelah menjelajah Eropa dan sebagian Asia beberapa bulan lalu.

Rencananya, dari Kanada Jeffrey akan melanjutkan perjalanan menuju Amerika Serikat dan menembus Amerika Selatan.

Namun, cuaca di Kanada masih belum menentu dan salju masih tebal menutup sebagian besar rute yang akan dilalui.

Jeffrey menjadi pusat perhatian dan bintang pada acara yang dimulai dari sore hingga malam hari itu yang dalam acara tersebut, Kang JJ mengungkapkan kisah penjelajahan RFP dengan sepeda motor seorang diri berkeliling dunia.

Sejauh ini Jeffrey telah mengunjungi 77 negara.

Kisah penjelajahan yang dramatis telah memukau dan memikat perhatian hadirin yang hampir seluruhnya pernah merasakan pengalaman menjelajah negeri orang dengan sepeda motor.

"Mereka terpaku di tempat duduknya sepanjang presentasi dan tanya jawab yang dilakukan dengan bantuan sarana presentasi visual/photo dan film pendek. Emosi para bikers penjelajah terbawa, mereka seakan merasakan pahit getir perjalanan," kata Jeffrey.

Ada kalanya mereka terperangah, ketika mendengar cerita menjelajahi medan off road di Siberia sejauh 1.450 kilometer dalam sehari dan upaya survival di berbagai kesulitan.

Jeffrey juga menceritakan pengalaman ketika dirinya terancam seekor beruang di hutan di Bhutan.

"Ada yang tertawa lucu, walau banyak juga yang terheran-heran saya bisa selamat dari amukan beruang," katanya.

Para bikers juga merasa sedih manakala Jeffrey harus kehilangan sepeda motor BMW R 1150 GS Adventure ketika sedang diparkir di depan hotel di dekat kantor polisi di Amsterdam, Belanda, Mei 2012.

Mereka juga sedih saat mendengarkan motor tersebut juga ditabrak mobil di tengah gurun Baluchistan, hingga motor tersebut rusak dan terseok-seok jalannya. Musibah saat diserempet truk tronton di Kazakhstan melengkapi suka-duka perjalanan panjangnya.

Kehadiran Jeffrey dalam acara tersebut memenuhi undangan dari Grant dan Susan Johnson, pendiri organisasi jelajah dunia "Horizons Unlimited.".

Organisasi bagi para penjelajah dunia ini beranggotakan ratusan ribu petualang bermotor dari berbagai penjuru dunia.

Dalam sambutannya, Grant Johnson mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran Jeffrey. Bagi keduanya, pertemuan itu merupakan yang pertama setelah selama tujuh tahun berkomunikasi melalui surel.

Horizons Unlimited yang dibentuk sejak tahun 1997 bertujuan untuk menginspirasi, memberi informasi dan memperkuat koneksi antar penjelajah bermotor di seluruh dunia.

Setiap tahun mereka mengadakan beberapa pertemuan rutin di berbagai negara. Grant Johnson juga menyatakan sangat ingin menjelajah Indonesia dengan sepeda motor.

Johnson mengaku pernah mengunjungi Indonesia, namun dalam kesempatan liburan dan aktifitas menyelam di Bunaken dan Bali.

Selain bercerita pengalaman, Jeffrey juga sempat memberikan kejutan kepada para bikers dengan menyuguhkan sajian makanan khas Indonesia, lemper.

Panganan dari ketan berisi daging itu merupakan sumbangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Vancouver.

"Ini lucu. Mungkin karena senang dengan rasanya, ada bikers yang diam-diam mengantongi lima lemper sekaligus. Malah ada yang mengira lemper dimakan berikut daun pisang pembungkusnya," ujar Jeffrey diselingi tawa. "

"Untung Grant Johnson memberi pengarahan agar daun pisang  tidak ikut dimakan."


Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar