Caracas (ANTARA News) - Adu jotos terjadi di Parlemen Venezuela, Selasa, menyebabkan sejumlah anggota legislatif terluka dan berdarah dalam sebuah sesi yang membahas sengketa pemilu di negara Amerika Latin itu.

Pihak oposisi mengatakan tujuh anggota parlemen mereka diserang dan terluka ketika memrotes sebuah langkah yang diajukan untuk menghalangi hak bicara mereka di Majelis Nasional terkait penolakan untuk mengakui kemenangan Presiden Nicolas Maduro pada pemilu 14 April lalu.

Maduro, yang merupakan pemimpin Sosialis pilihan mantan presiden Hugo Chavez, mengalahkan kandidat oposisi Henrique Capriles dengan keunggulan suara tipis.

Capriles menolak mengakui kemenangan itu, sekaligus menuduh ribuan kejanggalan yang terjadi serta beberapa indikasi "pencurian" suara.

"Mereka bisa mengalahkan kami, memenjarakan kami, tetapi kami tidak akan menjual harga diri kami," kata salah seorang anggota parlemen oposisi, Julio Borges, ketika berbicara kepada televisi setempat dengan wajah babak belur.

"Pukulan yang kami terima akan membuat kami lebih kuat," katanya.

Aksi barbar itu terjadi ketika Majelis Nasional yang dikuasai partai pemerintah meloloskan usulan untuk membatalkan hak bicara kelompok oposisi di badan legislatif itu sebelum mereka mengakui Maduro sebagai pemimpin pemerintahan.

"Sebelum mereka mengakui otoritas, institusi tertinggi Republik Venezuela, kehendak berdaulat dari rakyat, wakil dari pihak oposisi hanya akan berbicara lewat jalur pribadi, tidak di Majelis Nasional ini," kata Ketua Parlemen, Diosdado Cabello.

Reuters mengabarkan kedua pihak saling tuduh terkait siapa yang memulai insiden pukul-memukul yang terjadi dalam rapat tertutup itu.

Komisi Pemilihan Umum Nasional Venezuela (CNE) sendiri pada Senin (29/4) dilaporkan telah memulai penghitungan ulang sebagian suara yang diperebutkan dalam pemilihan presiden.

Maduro dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan umum dengan total 7.757.704 suara, sementara calon oposisi Hanrique Capriles meraih 7.302.648 suara, selisih 273.056 suara--atau sekitar 1,82 persen saja.

(P012)

Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2013