hari ini memang cukup tebal dibandingkan hari biasanya
Pulau Punjung (ANTARA) -
Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, diselimuti kabut asap yang diduga asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan dari Jambi, provinsi tetangga.
 
Analisis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Dharmasraya, Ardianus Efendi di Pulau Punjung, Sabtu, mengatakan akibat kabut asap jarak pandang di daerah itu masih dalam kategori normal.
 
"Kondisi kabut asap sudah berlangsung sejak berapa hari terakhir, hari ini memang cukup tebal dibandingkan biasanya, namun jarak padang masih normal," katanya.
 
Ia mengatakan Kabupaten Dharmasraya secara geografis berbatasan dengan Jambi, sehingga dugaan kuat kabut yang menyelimuti daerah itu merupakan asap kiriman.
 
Pihaknya tidak menampik kabut asap di daerah itu disebabkan akibat kebakaran lahan yang terjadi sejak sebulan terakhir, kata dia.
 
"Meskipun kebakaran lahan di Dharmasraya terjadi sebulan terakhir ini, kami rasa tidak dominan untuk menyumbang asap karena yang terbakar tidak seluas di provinsi tetangga," katanya.

Baca juga: RSUD Abdul Manaf Jambi sediakan ruang khusus bernafas akibat asap
Baca juga: BMKG: Jumlah titik panas di Jambi meningkat, capai 1.819 hotspot
 
Ia menyebutkan BPBD Dharmasraya telah berkoordinasi dengan instansi terkait guna menyikapi kabut asap yang menyelimuti daerah itu.
 
"Untuk koordinasi sudah dilakukan dengan Dinas Kesehatan, DLH, dan pihak terkait untuk mengambil kebijakan apabila kabus asap semakin tebal, semisalnya bagi-bagi masker," ungkap dia.
 
Kabut asap yang menyelimuti daerah itu diakui warga Dharmasraya.
 
"Beberapa hari ini kabut asap sudah mulai di daerah kami, cuman hari ini memang cukup tebal dibandingkan hari biasanya," kata Andi P (49), warga Dharmasraya.
 
Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan sebelum kabut asap semakin tebal dan mengganggu kesehatan warga.

Baca juga: BNPB sebut cakupan asap karhutla Sumsel terkendali
Baca juga: Kualitas udara di Palangka Raya berkategori sangat tidak sehat
Baca juga: Asap karhutla mulai berdampak pada penerbangan di Bandara Tjilik Riwut

Pewarta: Rahmatul Laila
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2023