... uang yang ada kalau dihitung ulang ternyata tidak akan siap untuk bangun rumah... "
Pekanbaru, Riau (ANTARA News) - Harga bahan bangunan di Kota Pekanbaru, Riau, naik cukup signifikan, hingga 20 persen. Sejumlah pedagang bahan bangunan di kota itu, Selasa, menyatakan, penyumbang kenaikan harga itu dari sektor BBM.

Untuk pasir putih bangka yang biasanya seharga Rp1.550.000, saat ini naik menjadi Rp1.800.000 per truk.

Kemudian untuk jenis pasir mundu yang sebelumnya seharga Rp250.000 naik menjadi Rp320.000 permeter kubik dan pasir cileungsi yang semula seharga Rp200.000 saat ini menjadi Rp250.000 permeter kubik.

Kemudian untuk berbagai jenis batu-batuan juga mengalami lonjakan harga cukup signifikan, seperti batu split per satu isi mobil jenis pick-up semula dihargai Rp265.000 dan kini menjadi Rp300.000.

Untuk jenis batako semen ukuran besar, menurut perajin, saat ini dijual distributor seharga Rp3.000, mengalami kenaikan dari harga sebelumnya yang hanya Rp2.500 perbata.

Sementara jenis batu bata merah biasa ukuran kecil yang awalnya seharga Rp180 saat ini naik menjadi Rp220 perunit, dan yang berukuran besar dari Rp500 naik menjadi Rp600 perunit.

Selanjutnya, perajin juga mengatakan, jenis batu bata merah oven (panggang) perunit saat ini juga naik dari Rp 550 menjadi Rp650 perbata, batu kali belah per m3 dari Rp160.000 menjadi Rp185.000, batu knecker dari Rp180.000 menjadi seharga Rp200.000 per m3.

"Untuk jenis batu alam juga naik, kisaran lima sampai 10 persen karena ongkos pengiriman juga mulai mahal sejak kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak)," kata Anto (47), pemilik toko bangunan khusus penyedia batu alam di Jalan Harapan Raya, Pekanbaru.

Untuk batu alam jenis candi berukuran 30x30, kata dia, semula seharga Rp130.000 dan kini naik menjadi Rp150.000 permeter persegi.

Batu andesit menurut dia juga demikian, sebelumnya seharga Rp160.000 saat ini naik menjadi Rp180.000 per m2, batu pancawarna dari Rp60.000 menjadi Rp75.000 per karung, serta jenis batu bali per 10 kilogramnya saat ini menjadi Rp75.000 (sebelumnya Rp68.00).

Hardiwan (38), mengaku harus menunda pengerjaan rumahnya hingga tyahun depan karena perhitungan keuangan diluar perkiraan semula.

"Nggak tahu juga kalau bakal ada kenaikan harga BBM, uang yang ada kalau dihitung ulang ternyata tidak akan siap untuk bangun rumah," katanya. 

(KR-FZR)

Pewarta: Fazar Muhardi
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2013