Kebangkitan Rusia: determinasi dan pragmatisme Putin

Kebangkitan Rusia: determinasi dan pragmatisme Putin

Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan), menjabat tangan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun, di sela KTT G20 di St Petersburg, Rusia, beberapa bulan lalu. Hubungan Indonesia dan Rusia semakin dinamis dan menggairahkan dari tahun ke tahun. (dokumentasi pribadi)

... Dobro pojalovat v Indonesiu, President Vladimir Vladimirovich Putin!... "
Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Velikoy Strane Silniy Lider atau Negara Besar, Pemimpin Kuat adalah slogan penyemangat yang banyak didengungkan di sekitar 60.000 kegiatan kampanye pilkada serempak di seantero wilayah Rusia pada tanggal 8 September.

Suatu es politik yang tidak terbayangkan 20 tahun lalu akan terjadi di negeri Tsar yang heterogen ini.

Profil global Rusia

Secara keseluruhan, Federasi Rusia dengan bentangan luas wilayah 17 juta km2 atau hampir delapan kali lipat luas Indonesia, terdiri atas 83 subjek federal, terbagi dalam 46 provinsi, 21 republik, sisanya daerah administratif khusus, otonomi dan dua kota federal (Moskow dan St Petersburg). 

Besaran fisik wilayah Rusia diikuti pula oleh besaran GDP dan PPP yang menurut IMF pada 2012 masing-masing menduduki peringkat delapan dan lima dunia.

Dalam konteks perpolitikan dunia, profil Rusia saat ini sedang mendapat perhatian luas. Di tengah ancaman Amerika Serikat untuk menyerang Suriah, proposalnya mendorong agar sumber daya persenjataan kimia Suriah ditempatkan di bawah pengawasan PBB, dianggap terobosan menyelamatkan posisi semua pihak, termasuk AS sendiri dan masyarakat dunia tentunya.

Suatu proposal pragmatis, pada saat masyarakat dunia semakin realistis dan letih dan penat dengan berbagai kekerasan yang terjadi di berbagai kawasan, serta terkurasnya kemampuan menanggung beban dari kemungkinan menjulangnya harga minyak bumi dunia apabila peperangan terjadi.

Usul ini semakin favourable karena tetap menjunjung multilateralisme dengan keterlibatan peran Dewan Keamanan PBB.

Tidak terkirakan dampaknya bagi dunia jika pembahasan tentang isu Suriah antara Putin dan Obama mengalami kebuntuan pada saat jamuan makan malam G-20 bulan lalu di St Petersburg.

Kesepakatan ini setidaknya telah meredam berkembangnya suatu krisis regional menjadi krisis global.

Kebijakan luar negeri mencerminkan domestic order dan prioritas nasional suatu negara. Sosok Vladimir Putin yang telah dua kali menduduki jabatan presiden dan satu kali jabatan perdana menteri di negara berpenduduk 143 juta ini menjadi sangat sentral.

Kepemimpinan dan kepiawaiannya dalam mengelola negara dan sebagai pembuat keputusan keputusan yang taktis diakui dan disegani, baik di dalam maupun di luar negeri.

Peran transformis Putin

Dalam kesempatan mendampingi kunjungan Ketua MPR, Sidarto Danusubroto, dan delegasi, pekan lalu di Moskow, terungkap bahwa kalangan Parlemen Rusia (Duma Negara) pun mengakui peranan transformis Putin, sekaligus sebagai penggerak kebangkitan Rusia.

Dikatakan pihak Duma, terdapat dua masa krusial dalam perjalanan sejarah kontemporer bangsa Rusia, yaitu pada periode transisi dari pecahnya Uni Sovyet (1991-2000), dimana nilai-nilai demokrasi meningkat, namun moralitas bangsa menurun drastis di tengah besarnya jumlah utang negara yang hampir mencapai 80 miliar dolar AS. Selain itu, terdapatnya apatisme akut terhadap kepastian hukum.

Pada periode 2000-an, Putin berusaha untuk membangkitkan kembali moral bangsa, berbarengan dengan pencapaian tujuan utama memulihkan ekonomi Rusia.

Sejak masa itu, Rusia mengalami transformasi, secara gradual kehidupan sosial-ekonomi rakyatnya mengalami kemajuan hingga sekarang. Keberlangsungan peningkatan ekonomi negara anggota EAS, BRICS dan G-8 ini dapat tetap terjaga, antara lain karena didukung pula oleh terdapatnya "kestabilan" sosial dan politik domestiknya.

Lingkungan yang kondusif bagi keberlangsungan pembangunan, menjadi hirauan utama Kremlin. Berbagai potensi ancaman atau gangguan eksternal dan internal terhadap kestabilan negara secara pre-emptive ditangani pemerintahan Putin, antara lain melalui rambu-rambu hukum yang diberlakukan sejak Putin berkantor di Kremlin, pada Mei 2012.

Determinisme kebijakan Putin

Dengan alasan telah mencampuri proses politik dalam negeri (pemilu), pada Oktober 2012, kantor salah satu "badan besar" negara terkemuka didunia yang telah berdiri di Moskow sejak 20 tahun lalu diminta untuk ditutup dan dihentikan kegiatannya. 

Pada bulan sama, melalui pengesahan presiden, telah dikeluarkan UU tentang Pengkhianatan terhadap negara yang memungkinkan para aparat penegak hukum menyasar seseorang telah bekerja sama dengan organisasi internasional karena membocorkan rahasia negara.

Sebulan sebelumnya, Presiden berusia 61 tahun pemegang sabuk hitam tae kwon do dan yang selalu tampil fit ini menandatangani peraturan yang mengharuskan setiap organisasi kemasyarakatan yang memperoleh bantuan dari luar, teregistrasi sebagai "agen asing".

Aturan ini mewajibkan pula organisasi kemasyarakatan lokal untuk memberikan laporan tentang sumber dan penggunaan dana yang diterima. Pada Juni tahun ini disahkan aturan kontroversial lain terkait dengan pelarangan kegiatan berbau propaganda homoseksualitas atau orientasi seksual non-tradisional.

Berbagai kebijakan Pemerintahan Putin ini serta merta menuai protes dan tentangan dari berbagai pihak, khususnya organisasi kemasyarakan internasional dan pemerintah negara-negara Barat yang selama ini memang selalu mengkritisi pemerintahan Putin sebagai rejim yang kurang mempromosikan nilai-nilai demokrasi. 

Lalu bagaimana tanggapan pemerintah Putin?

Putin memiliki visi dan sangat berkepentingan untuk mengkonsolidasikan identitas nasional di tengah dinamika globalisasi. Kedaulatan, kemerdekaan dan keutuhan wilayah menurut mantan petinggi KGB ini adalah adalah sesuatu yang mutlak (unconditional). Kebijakan, hukum dan peraturan yang dianggap kontroversial itu tetap dijalankan secara konsisten sampai saat ini.

Penahanan personil band Pussy Riots karena menghina pemerintah, penangkapan diplomat AS di Moskow karena kegiatan mata-mata di Moskow, "perlindungan" yang diberikan Rusia kepada Edward Snowden pembocor rahasia NSA serta penahanan 14 kru kapal Greenpeace yang memprotes aktivitas pengeboran Gazprom di Arctic hanyalah sedikit kasus sebagai cerminan ketegasan yang dimiliki Pemerintah Putin.

Hal ini semua dilakukan untuk mempertahankan integritas pemerintah dan negara, tanpa toleransi dan pengecualian. Eto Rossia! - Ini Rusia Bung!

Determinasi tinggi yang diperlihatkan Pemerintah Rusia dalam menghadapi dan mengatasi berbagai masalah dan isu aktual tentu saja tidak terlepas dari faktor Putin.

Aspek idiosyncratic dan gaya kepemimpinan selama hampir 15 tahun dari tokoh yang dinominasikan mendapat hadiah Nobel perdamaian ini turut mewarnai proses transformasi menuju Rusia baru.

Visi dan misi menuju "Rusia baru"

Dalam suatu forum diskusi prestisius, Valdai International Discussion Club, pada 19 September 2013, di Moskow, presiden bernama lengkap Vladimir Vladimirovich Putin ini telah menyampaikan "curhat"-nya mengenai visi dan misinya mentranformasikan Rusia.

Para pengamat Rusia mengatakan, "curhat"-nya Putin di forum diskusi Valdai ini sebagai ekspresi terbuka, jujur dan powerful.

Pokok-pokok pemikirannya mengenai nilai-nilai, strategi dan masa depan pembangunan Rusia yang sempat tercurahkan adalah :

Pertama. Diperlukan strategi baru untuk memelihara identitas nasional Rusia di tengah perubahan cepat dunia yang semakin terbuka, transparan dan interdependen.

Kedua. Untuk membangun negara, perlu dimiliki spiritual, kultural, dan national self-determination. Tanpa ini semua, Rusia tidak akan mampu menghadapi tantangan internal dan eksternal, serta akan kalah dalam kancah persaingan global. Pesimisme tidak mendapat tempat dalam doktrin ini;

Ketiga. Rusia memiliki penguasaan militer, teknologi dan ekonomi yang sangat memadai. Namun, yang lebih menentukan keberhasilan pembangunan adalah kualitas warga negara dan kualitas masyarakat dalam artian ketangguhan intelektual, spiritual dan moralnya, serta sejauh mana mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari sejarah, nilai dan tradisi bangsa.

Hal ini kemudian membutuhkan elemen pemersatu, berupa rasa tanggung jawab dan tujuan bersama yang jelas. Sektor pendidikan dinilai memegang peranan penting sebagai sumber pembentukan keunikan watak dan mentalitas, sekaligus sebagai fondasi nasionalisme.

Keempat. Kemerdekaan serta kedaulatan spiritual, ideologi dan politik (luar negeri) adalah bagian tak terpisahkan dari karakter nasional Rusia.

Aspirasi dan identitas nasional tidak dapat dibentuk oleh suatu monopoli ideologi karena sifatnya akan menjadi rentan. Untuk itu diperlukan kreativitas historis mengingat identitas nasional itu tidaklah bersifat statis.

Kelima, perlu ditingkatkan kesadaran Rusia terbentuk secara multietnis dan multibudaya serta upaya pemajuan jiwa patriotisme dan kebanggaan atas sejarah bangsa. Eksploitasi faktor kesukuan hanya akan menggerogoti integritas nasional Rusia.

Keenam, Rusia dibangun suatu keberagaman, harmoni, dan keseimbangan yang ketiga unsur ini terproyeksikan pada posisi Rusia dalam berbagai isu di percaturan politik global.

Ketujuh, Abad-21 akan diwarnai persaingan intens antarnegara, sehingga integrasi dengan negara-negara sekitar kawasan menjadi prioritas. 

Eurasian Economic Union merupakan kesempatan bagi negara-negara eks-Sovyet untuk menjadi pusat pertumbuhan global yang independen, tidak tergantung pada kawasan lain. Dengan demikian, Rusia harus berkontribusi signifikan terhadap dunia di Abad-21.

Restrukturisasi dan keterbukaan Rusia

Terkait bidang ekonomi tersebut, Putin menyatakan, seiring dengan membaiknya ekonomi dunia, sudah saatnya pembangunan ekonomi Rusia diarahkan kembali ke mode pertumbuhan. Diserukan mengenai perlunya suatu perubahan struktural yang berorientasi pada peningkatan produktivitas SDM, keefektifan belanja anggaran dan pengurangan biaya produksi. 

Walaupun total GDP-nya mencapai lebih dari 3.000 triliun dolar AS (kedua terbesar di Eropa), Putin menyadari dan berkalkulasi, kesenjangan antara tingkat konsumsi dan tingkat produksi Rusia masih beresiko.

Putin tidak menutup mata pula, sebagian rakyatnya masih merasakan "ketidakpastian" terkait situasi politik dalam negeri.

Gejala brain-drain para teknokrat dan capital-flight ke luar wilayah Rusia telah terbaca oleh dia. Untuk itu, Putin memiliki solusi merestrukturisasi pasar kerja. Pemerintah akan mengurangi jenis pekerjaan berupah rendah, menambah lowongan kerja dengan posisi tinggi dalam industri modern dengan skema karir dan upah yang menarik.

Pemberian insentif bagi sektor-sektor pendorong volume ekspor sumberdaya non-alam dengan fasilitasi dan pembukaan jalur ekspor bagi UKM menjadi opsi kebijakan. Langkah-langkah ini ditopang dengan sistem pemasaran yang kreatif, program jaminan ekspor dan penciptaan demand produk Rusia melalui manajemen PMDN yang cerdas. Suatu proyeksi ekonomi berjangka panjang.

Rusia telah dan akan menjadi ketua atau tuan rumah beberapa kegiatan utama internasional, termasuk APEC (2012), G-20 (2013), World University Games (Universiade), Kazan Summit (2013), Winter Olympiad (2014) dan Piala Dunia FIFA (2018). Rusia sekarang, telah trendy, gaul,  dan membuka dirinya.

Semangat keterbukaan ini bahkan merasuki orang nomor satu Rusia. Beberapa hari setelah proposal inovatif-nya mengenai penyelesaian Suriah dikumandangkan, Putin atas inisiatif pribadinya "menyapa" warga AS dan "menginformasikan" Pemerintah Obama melalui surat terbukanya yang dimuat harian ternama AS, the New York Times (11/09/13).

"We must stop using the language of force and return to the path of civilized diplomatic and political settlement...", demikian salah satu kutipannya.

Indonesia dan Rusia

Bagi Indonesia, romantisme hubungan pada '50an-'60-an dengan Uni-Soviet, dan hubungan hangat dengan Rusia saat ini, menjadi das kapital yang patut dikelola, diarahkan bagi peningkatan kemitraan dan kerja sama segala bidang antar kedua bangsa besar ini. 

Sistem internasional, geoaliansi, dan lanskap penguasaan informasi (media-massa) dunia telah jauh berubah sejak berakhirnya perang dingin. Monopoli politik global telah sirna. Dinamika yang patut kita cermati.

Rusia yang sedang menggeliat telah menjadi salah satu mitra strategis Indonesia, dan Presiden Vladmir Putin orang terkuatnya akan hadir pada KTT APEC 2013 di Bali ini. Sudah selayaknya Indonesia mereaktualisasikan hubungannya dengan Rusia sebagai sobat lama yang tidak pernah meninggalkan kita. Spacibo bolshoe! Terima kasih banyak.

Dobro pojalovat v Indonesiu, President Vladimir Vladimirovich Putin! Selamat datang di Indonesia Presiden Putin!

Moskow, Oktober 2013

(*) Djauhari Oratmangun, Duta Besar Indonesia Berkuasa Penuh untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus. Isi artikel merupakan Pandangan dan Pendapat Pribadi.

Oleh Djauhari Oratmangun (*)
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Presiden Joko Widodo hadiri KTT APEC 2018

Komentar