counter

Ribuan warga Yogyakarta lakukan "Pisowanan Agung" peringati HUT

Ribuan warga Yogyakarta lakukan "Pisowanan Agung" peringati HUT

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X (ANTARA)

Pembangunan harus dikembalikan ke arah yang benar sehingga tercipta karakter kota yang humanis. Prosesnya boleh jadi sangat panjang, namun harus tetap dilakukan bukan justru berhenti."
Yogyakarta (ANTARA News) - Ribuan warga Kota Yogyakarta melakukan "Pisowanan Agung" ke Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk memperingati hari ulang tahun ke-257 kota tersebut sembari menyampaikan "ulubekti".

Kegiatan diawali dengan pawai budaya 45 kelurahan di kota tersebut dari Taman Parkir Khusus Ngabean menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta, tempat berlangsungnya pisowanan agung.

Setelah seluruh warga berkumpul di Pagelaran Keraton, Wakil Wali Kota Yogyakarta Imam Priyono yang memimpin rombongan masyarakat menyerahkan "ulubekti" atau seserahan ke Sultan Hamengku Buwono (HB) X di antaranya berupa jajan pasar, kelapa dan burung merpati.

Imam yang memimpin dengan mengenakan pakaiam tradisional Yogyakarta itu berharap, hari ulang tahun ke-257 Kota Yogyakarta tersebut dapat dijadikan sebagai tonggak untuk pembangunam kota yang lebih baik lagi.

Sementara itu, Sri Sultan HB X menyatakan agar Wakil Wali Kota Yogyakarta bisa memberikan kebijakan bahwa ulubekti yang disampaikan tersebut tidak dimasukkan sebagai gratifikasi.

"Ulubekti ini pada dasarnya saya terima. Tetapi di zaman sekarang, hal-hal seperti itu bisa dikategorikan sebagai gratifikasi. Oleh karenanya, perlu kebijaksanaan lebih lanjut dari wakil wali kota," katanya.

Sultan yang datang dengan setelan jas lengkap kemudian menyampaikan "sabdatama" terkait hari ulang tahun Kota Yogyakarta yaitu harapannya agar Kota Yogyakarta bisa berkembang sebagai kota yang humanis.

"Pembangunan fisik di dalam era modern seperti saat ini memang tidak bisa dielakkan. Namun, pembangunam tidak boleh dilakukan dengan menggeser ruang-ruang publik yang ada," katanya.

Pembangunan yang dilakukan dengan orientasi material semata, lanjut dia, justru akan menimbulkan "kekosongan" di tengah masyarakat karena warga tidak akan bisa saling berinteraksi.

"Pembangunan harus dikembalikan ke arah yang benar sehingga tercipta karakter kota yang humanis. Prosesnya boleh jadi sangat panjang, namun harus tetap dilakukan bukan justru berhenti," katanya.

Kegiatan "pisowanan agung" tersebut merupakan puncak dari serangkaian acara peringatan hari ulang tahun Kota Yogyakarta. Sebelumnya, warga di tiap kelurahan sudah menggelar berbagai kegiatan budaya, dan pada Minggu (6/10) telah digelar panggung pesta rakyat di sepanjang Malioboro. (E013)

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar