Depok (ANTARA) - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok, Jawa Barat, menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah dengan Tadarus Budaya Ramadhan sebagai pendekatan budaya untuk memperkuat persatuan bangsa.

Kegiatan ini juga diisi dengan dialog budaya oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr Bondan Kanumoyoso, Budayawan Abdullah Wong, dan penampilan Perkusi dari Lesbumi Depok.


"Melalui dialog budaya ini kita mengasah rasa dan kepekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui penguatan tradisi dan penguatan budaya, di antara seni musik religi, shalawat, dan lainnya," ujar Ketua PCNU Kota Depok KH Achmad Solechan, di Depok, Senin.

Baca juga: MHM: Ramadhan momentum bangun persaudaraan antarumat beragama

Dalam dialog budaya, kata dia, mengedepankan aspek dan nilai-nilai kultur budaya, sehingga diharapkan bangsa ini akan selamat dan terhindar dari godaan ekstremisme, mau menang sendiri, tidak toleran, dan lainnya.

"Dengan budaya itu bisa diterima oleh semua kalangan tanpa adanya sekat. Mampu berdiri di atas suku, etnis, kelompok, golongan, dan itu bisa berbaur bersama dengan budaya. Sangat sesuai dengan kondisi Bangsa Indonesia yang beragam dan berpegang teguh pada pada Bhinneka Tunggal Ika," katanya.

Dekan FIB UI Dr Bondan Kanumoyoso mengungkapkan bahwa washilah dalam akademik dikenal dengan referensi. Perlu diingat bahwa warisan yang ditinggalkan para ulama dan orang tua terdahulu adalah toleransi seperti pada agama lainnya.

"Peradaban yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama itu adalah nilai-nilai toleransi yang telah berkembang di masyarakat," ujarnya.

Baca juga: Wapres: Ramadhan momentum perkokoh persaudaraan usai dinamika pemilu

Wakil Ketua Lesbumi PBNU Dr Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan perlunya dialog budaya dalam upaya merajut kembali kebersamaan dan persatuan. Terlebih lagi, Bangsa Indonesia baru saja menyelenggarakan hajat besar yaitu pesta demokrasi.

"Mari kita rajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan itu adalah hal biasa dan rahmat dari Allah SWT. Mari kita kembali kerja seperti semula di tempat masing-masing," ujar pimpinan Ki Ageng Ganjur ini.

Hal senada diungkapkan Budayawan KH Abdullah Wong menjawab pertanyaan peserta tentang adanya orang mempersoalkan washilah (perantara) dalam berdoa dengan nabi atau orang alim seperti Syekh Abdul Kodir Jaelani.

Baca juga: Muhammadiyah: Ramadhan momentum rekatkan persaudaraan pascapemilu

"Tidak hanya manusia saja yang membutuhkan washilah. Bahkan ketika Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW juga tidak secara langsung tetapi juga melalui perantara atau washilah," katanya.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024