Kairo (ANTARA News) - Seorang mahasiswa tewas selama demonstrasi kelompok garis keras di Universitas Kairo, Kamis, kata sejumlah pejabat, sementara aparat keamanan Mesir terus menindak para pendukung Presiden terguling Mohamed Morsi.

Korban tewas diidentifikasi sebagai Mohammed Reda Mohammed Abdo (19), mahasiswa teknik tahun kedua, kata pejabat senior kementerian kesehatan Ahmed al-Ansari dan juru bicara bagian forensik Hisham Abdul Hamid, lapor AFP.

Keadaan seputar kematian korban masih belum diketahui.

Sejumlah petugas medis juga mengatakan, tujuh orang cedera dalam insiden itu.

Menurut beberapa saksi kepada AFP, polisi menggunakan meriam air, gas air mata dan senapan angin untuk membubarkan mahasiswa pemrotes, yang menuntut pengukuhan kembali kekuasaan Morsi.

Para pendukung Morsi secara rutin melakukan protes terhadap militer sejak mereka menggulingkan pemimpin garis keras itu pada 3 Juli.

Kematian Abdo itu merupakan yang pertama sejak pemerintah sementara meloloskan undang-undang yang menetapkan penyelenggara demonstrasi harus memberikan pemberitahuan tertulis tiga hari sebelum melakukan protes.

Selasa, polisi membubarkan dua protes kecil di Kairo yang dilakukan gerakan-gerakan pemuda dan sekuler yang menentang undang-undang itu, yang memperluas sepak-terjang aparat keamanan dalam menindak kelompok garis keras.

Rabu, pihak berwenang memerintahkan penangkapan dua aktivis utama yang memimpin pemberontakan terhadap penguasa kawakan Hosni Mubarak pada 2011.

Militan meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan setelah militer menggulingkan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 3 Juli.

Penumpasan militan yang dilakukan kemudian di Mesir menewaskan ratusan orang dan lebih dari 2.000 ditangkap di berbagai penjuru negara itu.

Kekacauan meluas sejak penggulingan Presiden Hosni Mubarak dalam pemberontakan rakyat 2011 dan militan meningkatkan serangan-serangan terhadap pasukan keamanan, terutama di Sinai di perbatasan dengan Israel.

Militan-militan garis keras yang diyakini terkait dengan Al Qaida memiliki pangkalan di kawasan gurun Sinai yang berpenduduk jarang, kadang bekerja sama dengan penyelundup lokal Badui dan pejuang Palestina dari Gaza.

Militan di Sinai, sebuah daerah gurun di dekat perbatasan Mesir dengan Israel dan Jalur Gaza, menyerang pos-pos pemeriksaan keamanan dan sasaran lain hampir setiap hari sejak militer menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada 3 Juli.

Sumber-sumber militer memperkirakan, terdapat sekitar 1.000 militan bersenjata di Sinai, banyak dari mereka orang suku Badui, yang terpecah ke dalam sejumlah kelompok dengan ideologi berbeda atau loyalitas suku, dan sulit untuk melacak mereka di daerah gurun itu.


Penerjemah: Memet Suratmadi

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2013