WWF keluarkan panduan konsumsi makanan laut

WWF keluarkan panduan konsumsi makanan laut

Penjualan ikan segar di Pasar Ikan Tawang, Kendal, Jawa Tengah, Minggu (22/9). WWF mengeluarkan panduan konsumsi makanan laut yang ramah lingkungan. Panduan itu dapat diunduh dari laman www.wwf.or.id/seafoodguide. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Jakarta (ANTARA News) - Organisasi konservasi World Wildlife Fund for Natural (WWF) Indonesia mengeluarkan panduan konsumsi makanan laut untuk mecegah penurunan populasi jenis-jenis binatang laut.

Saat menyampaikan keterangan pers di Jakarta, Jumat, CEO WWF Indonesia Dr. Efransjah mengatakan WWF menyusun daftar ikan dengan kategori tangkapan alam maupun hasil budidaya dan menandai pilihan jenis-jenis ikan yang bisa dikonsumsi.

Penandaan dilakukan dengan warna seperti warna lampu lalu lintas, merah untuk jenis yang binatang laut yang harus dihindari, kuning untuk jenis ikan yang harus dipertimbangkan, dan hijau pilihan jenis binatang laut terbaik yang bisa dikonsumsi.

Jenis binatang laut yang tidak boleh dikonsumsi karena termasuk jenis binatang yang dilindungi undang-undang antara lain Triton, Trochus, Dugong, Ketam Kelapa, Kima Raksasa, Mata Tujuh, Lumba-lumba dan penyu beserta telurnya.

Sementara makanan laut bertanda hijau antara lain cumi-cumi, cakalang, teri jengki, tongkol, dan tenggiri.

Efransjah menyarankan konsumen lebih bijak memilih jenis dan cara menangkap binatang laut yang akan dikonsumsi.

"Jangan makan ikan yang masuk daftar hampir punah. Begitu banyak yang aman kenapa mesti makan hiu?" katanya.

"Ketika mau makan, gunakan hak pilih itu. Beri tahu yang lain juga," tambahnya.

Saat ini populasi jenis ikan tertentu seperti ikan hiu terus berkurang karena jenis ikan itu banyak ditangkap untuk dikonsumsi siripnya, kata WWF Responsible Seafood Ambassador, celebrity chef Bobby Chinn.

WWF Earth Hour Ambassador Nadya Hutagalung menambahkan, berkurangnya populasi ikan hiu mengganggu ekosistem laut dan pada akhirnya akan berdampak pada rantai makanan di darat.


Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar