Ankara (ANTARA News) - Dua pemrotes tewas Jumat dalam bentrokan bersenjata dengan polisi Turki yang terjadi karena klaim bahwa pemakaman gerilyawan Kurdi telah dihancurkan, kata media setempat.

Sekitar 30 orang bertopeng dalam kelompok 150 demonstran melemparkan bom-bom Molotov dan granat tangan ke arah pasukan keamanan di daerah Yuksekova di Turki tenggara yang berpenduduk mayoritas Kurdi, kata Kantor Berita Dogan.

Polisi balas menembak dengan meriam air dan gas air mata, katanya, dengan menambahkan bahwa juga ada laporan-laporan mengenai tembak-menembak antara demonstran dan pasukan keamanan.

Kekerasan itu disulut oleh pernyataan yang dikeluarkan oleh sebuah kelompok masyarakat sipil yang mengecam penghancuran pemakaman dimana gerilyawan dari kelompok terlarang Partai Buruh Kurdistan (PKK) dimakamkan.

Namun, kantor gubernur daerah itu membantah ada pemakaman yang dihancurkan oleh aparat negara.

Peristiwa itu terjadi setelah masa tenang beberapa bulan antara pihak berwenang Turki dan PKK, yang mengumumkan gencatan senjata pada Maret setelah negosiasi rahasia dengan badan intelijen.

Pemimpin PKK yang dipenjara, Abdullah Ocalan, mengumumkan gencatan senjata itu sesuai dengan proses perdamaian dengan Ankara.

Ocalan yang menjadi buronan ditangkap di Kenya pada 15 Februari 1999 dalam operasi rahasia Turki setelah ia diasingkan dari Suriah, dimana ia berpangkalan selama satu dasawarsa untuk mengatur dari jauh Partai Buruh Kurdistan (PKK).

Vonis awal hukuman mati terhadap Ocalan diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup di sebuah penjara pulau di lepas pantai Istanbul sejak 2002.

Ocalan pada Maret mengumumkan gencatan senjata bersejarah dengan pemerintah Turki. Sebagai bagian dari gencatan senjata itu, PKK setuju menarik sekitar 2.000 gerilyawannya dari Turki ke pangkalan-pangkalan di Irak utara.

Sebagai imbalannya, mereka meminta hak-hak konstitusional lebih besar bagi penduduk Kurdi yang berjumlah 15 juta orang di Turki.

Namun, proses perdamaian itu diguncang oleh kematian seorang pemuda Kurdi selama protes anti-pemerintah di daerah tenggara yang berpenduduk Kurdi pada Juni.

Turki, Uni Eropa dan AS menganggap Partai Buruh Kurdistan (PKK) sebagai sebuah organisasi teroris.

Militer Turki melancarkan serangan-serangan udara dan operasi darat terbatas ke Irak utara sejak Agustus 2011 menyusul gelombang serangan gerilyawan PKK, setelah macetnya gencatan senjata sebelumnya.

PKK melancarkan serangan-serangan dari tempat persembunyian mereka di kawasan pegunungan terpencil Irak sebagai bagian dari perang mereka untuk memperoleh hak dan otonomi lebih besar bagi penduduk Kurdi.

Lebih dari 40.000 orang tewas sejak PKK mengangkat senjata pada 1984, demikian AFP.

(Uu.M014)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2013