Baghdad (ANTARA News) - Sedikitnya 11 orang tewas dan 45 orang lagi cedera dalam serangkaian serangan bom di Ibu Kota Irak, Baghdad, Minggu, kata satu sumber polisi.

Dua bom mobil meledak di satu pasar di Kabupaten Shaab di bagian timur-laut Baghdad, menewaskan sebanyak tujuh orang dan melukai 23 orang lagi, kata sumber itu kepada Xinhua.

Satu bom mobil lagi meledak di satu pasar di Kabupaten Jamila di bagian timur ibu kota Irak tersebut, menewaskan seorang warga sipil dan melukai 10 orang lagi, kata sumber itu.

Dua lagi bom pinggir jalan meledak secara terpisah di daerah komersial sibuk Maidan, menewaskan tiga orang dan melukai 12 orang lagi, tambah sumber tersebut.

Sejauh ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung-jawab atas serangan mematikan itu. Namun front Al Qaida di Irak, dalam kebanyakan kasus, diduga bertanggung-jawab atas serangan besar semacam itu di negeri tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa kelompok teror itu dan milisi lain dapat kembali menyebar kerusuhan.

Serangan tersebut terjadi saat pasukan keamanan Irak dan anggota suku Sunni memerangi gerilyawan Al Qaida di berbagai kota besar di Provinsi Anbar di bagian barat negeri itu.

Pada Rabu (1/1), Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki mengatakan ia mengubah keputusannya sebelumnya untuk menarik militer dari kota besar yang dilanda kerusuhan di Anbar dan sebaliknya akan mengirim balabantuan ke provinsi tersebut.

"Saya takkan menarik tentara dan akan mengirim pasukan tambahan" ke Provinsi Anbar --tempat bentrokan berlanjut pada hari ketiga-- sebagai tanggapan atas permintaan dari warga dan pemerintah lokal, kata Al-Maliki sebagaimana dikutip stasiun televisi milik pemerintah --Al Iraqiya. Bentrokan di Anbar memasuki hari ketiga, setelah ketegangan memuncak di provinsi tersebut pada Senin (30/12), ketika polisi Irak melucuti lokasi protes anti-pemerintah di luar Ramadi.

Pada Selasa (31/12), Al-Maliki mengatakan militer akan mundur dari kota besar di Anbar tapi akan melanjutkan perburuannya terhadap gerilyawan Al Qaida di daerah gurun di Provinsi Irak Barat tersebut.

Pasukan keamanan Irak pada Rabu bentrok dengan pria bersenjata di Kota Fallujah dan beberapa kantor polisi serta pos pemeriksaan di seluruh Anbar, kendati penarikan tentara dilakukan dari kota besar di Provinsi Irak Barat itu, kata satu sumber polisi.

Puluhan pria bersenjata dan anggota suku bersenjata menyerang kompleks markas polisi di Fallujah, sekitar 50 kilometer di sebelah barat Ibu Kota Irak, Baghdad. Mereka menguasai gedung tersebut dan senjata setelah bentrokan singkat dengan pasukan polisi yang mundur guna menghindari pertempuran dengan mereka.

Pemeluk Sunni di Irak telah melancarkan protes selama setahun, dan menuduh pemerintah --yang dipimpin pemeluk Syiah-- menyingkirkan mereka dan pasukan keamanan, yang juga didominasi pemeluk Syiah, secara membabi-buta menangkap, menyiksa serta bahkan membunuh putra mereka, demikian Xinhua melaporkan.

(SYS.C003)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2014