Oslo (ANTARA News) - Para ilmuwan, Senin, menyatakan telah menemukan dua jenis baru ikan hiu serta sejumlah ikan menarik dan batu karang di perairan lepas pantai Indonesia yang sekaligus membenarkan teori bahwa wilayah Pasifik Barat merupakan habitat satwa laut terkaya di dunia. Mereka berusaha meyakinkan pentingnya perlindungan yang lebih baik bagi satwa-satwa di semenanjung "Kepala Burung", Papua, dari upaya pencarian ikan yang menggunakan bahan peledak maupun kegiatan penambangan. "Kami merasa sangat yakin bahwa kasawan ini merupakan pusat keanekaragaman hayati laut di dunia," kata Mark Erdmandd, peneliti AS pada Konservasi Internasional yang memimpin penelitian tersebut tahun ini. Para pakar itu menemukan 24 jenis ikan yang baru pertamakali diketahui termasuk dua jenis hiu pangkat yang langsing dan bertotol. Hiu itu bisa tumbuh sampai 1,2 meter. Di antara temuan tersebut terdapat 20 jenis batu koral baru dan delapan jenis udang yang belum pernah dikenal. "Sangat mencengangkan bisa menemukan jenis hiu baru. Ini mahluk besar, bukan jenis bakteri atau cacing," kata Erdmann, seperti dikutip Reuters. Hiu-hiu itu diberi nama sesuai tanda yang ada pada tubuh mereka yaitu Hiu Pangkat karena bagian sisi tubuhnya memiliki tanda seperti pangkat bahu dalam seragam militer. Para peneliti juga menemukan sejumlah ikan bercahaya. Ikan jantan yang memiliki sejumlah selir itu akan bercahaya dengan warna berubah-ubah yaitu kuning terang, biru, merah jambu atau warna lain, diduga sebagai bagian dari ritual seksnya. Erdmann mengatakan, kawasan seluas 18.000 km persegi yang menjadi pusat penelitian itu mempunyai konsentrasi mahluk yang lebih banyak dibanding Great Barrier Reef di Australia. Ia juga mengatakan bahwa jenis baru ikan ekor kuning adalah satu-satunya yang bisa menjadi konsumsi manusia dalam dua penelitian yang berlangsung sekitar enam minggu itu. "Tetapi dikhawatirkan jenis ikan lainnya dijadikan tangkapan untuk dipelihara di dalam akuarium," katanya. Ia mengatakan, Departemen Kelautan Indonsia telah berniat meluaskan kawasan lindung untuk maritim, dari jumlah sekarang yang hanya 11 persen di seputar semenanjung Kepala Burung. "Kami sangat cemas terhadap dampak dari rencana perluasan komersialisasi perikanan di kawasan itu," kata Paulus Boli, peneliti dari perguruan tinggi di Papua. Ancaman kerusakan lingkungan juga berasal dari migrasi penduduk ke kawasan kecil yang sedang berkembang yang bisa memberikan tekanan pada kelestarian batu karang. Setiap penebangan pohon atau penambangan pada bukit di atas pesisir dapat mengalirkan endapan lumpur yang akan merusak batu karang. Erdmann mengatakan, daerah penelitian meliputi "Karang Segitiga" antara Indonesia, Filipina, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Di seputar Kepala Burung terdapat 1.223 jenis ikan dan 600 jenis koral. Great Barrier Reef mencakup wilayah yang 10 kali lebih besar tetapi hanya memiliki 1.464 jenis ikan serta 405 jenis koral. Laut Karibia yang lebih luas memiliki kurang dari seribu jenis ikan dan hanya 58 jenis koral. (*)

Copyright © ANTARA 2006