Jakarta (ANTARA News) - Ketidakmampuan mengatasi terus meningkatnya jumlah orang miskin menjadi salah satu faktor yang sempat mempengaruhi melorotnya popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke tingkat 55 persen pada Maret 2006. Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani, mengemukakan itu di Jakarta, Rabu, sehubungan dengan hasil survei opini publik mengenai evaluasi kepemimpinan nasional selang dua tahun di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Selain ketidakmampuan mengatasi masalah kemiskinan (dinyatakan oleh 62 persen responden), juga ada 71 persen responden menilai Presiden (dan Wakil Presiden) tidak mampu mengurangi jumlah penganggur serta 56 persen mengaku keduanya tak bisa menjaga harga-harga agar terkendali," papar Saiful Mujani. LSI melakukan survei di semua provinsi yang melibatkan 1.239 responden berusia 17 tahun ke atas dan sudah menikah, dengan tingkat toleransi kesalahan (margin of error) berkisar 2,8 persen. Dijelaskan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memulai pemerintahan pada bulan Oktober 2004 atas dasar dukungan pemilih sangat besar, yakni 61 persen. "Dalam masa bulan madu selang dua bulan, ada ekspetasi publik yang sangat tinggi, sehingga popularitas serta dukungan atas pasangan ini mencapai sekitar 80 persen. Ssudah itu, secara bertahap orang-orang mulai hidup kembali ke dunia nyata, lalu menyaksikan realitas politik di lapangan. Akhirnya pada September tahun lalu, kepuasan publik menurun tinggal 64 persen," ungkap Saiful Mujani. Kepuasan publik yang menurun sebesar 16 persen hanya kurang dari setahun, menurut Saiful Mujani, terus berlanjut karena pada akhir 2005 terjadi kebijakan tidak populer berupa kenaikan harga BBM "Makanya kekecewaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden yang mulai terjadi pada akhir 2005 terus berlanjut sampai Maret 2006, di mana tingkat kepuasan publik menurun menjadi hanya 55 persen," katanya. Akibat kenaikan BBM itu, menurut LSI, jumlah orang miskin meningkat sekitar empat juta dibanding tahun sebelumnya, atau naik sekitar 1,79 persen. Pengangguran juga meningkat dari 10,51 juta orang (2005) menjadi 11,1 juta orang (Maret 2006), atau naik sekitar 0,35 persen. "Inilah yang mengakibatkan popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencapai titik terendah," ungkap Saiful Mujani.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2006