Merevolusi mental Timnas Indonesia U-19

Oleh A.A. Ariwibowo

Merevolusi mental Timnas Indonesia U-19

Kapten timnas Indonesia U-19, Evan Dimas, mengibarkan bendera merah putih setelah berhasil mengalahkan Korea Selatan dalam laga lanjutan kualifikasi Grup G Piala Asia (AFC) U-19 di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (12/10) malam. Tim "Garuda Muda" berhasil menjadi juara Grup G dan melaju ke putaran final Piala Asia (AFC) U-19 setelah menaklukkan juara bertahan Korea Selatan dengan skor 3-2. (ANTARA FOTO/Ismar Patrizki)

Kami tidak bisa menanggap hal ini sebuah hal biasa. PSSI sangat serius melihat performa Timnas U-19
Jakarta (ANTARA News) - Gara-gara menuai dua kekalahan beruntun di ajang Hassanal Bolkiah Trophy beberapa hari lalu, tudingan demi tudingan bernuansa kritik yang revolusioner mengarah kepada penampilan Timnas Indonesia U-19.

Mengapa justru kritik yang bercengkok revolusioner, tidak sebatas evaluasi semata atau bongkar pasang personel, yang kini diperlukan bagi tim asuhan pelatih Indra Sjafri? Tanpa perlu basa-basi buang-buang tempo, saatnya merevolusi mental Ivan Dimas dan kawan-kawan.

Tipis kemungkinan untuk melaju ke semifinal perhelatan di Brunei Darussalam itu, mengingat pasukan Garuda Jaya memosisikan diri di peringkat kelima dari enam tim yang tergabung di grup B, karena baru mengoleksi satu poin dari tiga duel yang telah dilakoni.

Selanjutnya, Indonesia akan ditantang Kamboja pada 16 Agustus dan tim juru kunci, Singapura, pada 18 Agustus. Kedua skuat bukan skuat kacangan, ditambah beban mental dan moral kini dirasakan oleh Timnas Indonesia U-19. Ini lantaran anatomi kekalahan justru membebani dan membayang di sanubari pemain.

Kekalahan beruntun layaknya menghapus segala kenangan akan kemenangan masa lampau, sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan Latin klasik yang ditulis pujangga Seneca, bahwa hari bahagia (kemenangan) merupakan perkara yang bernilai sungguh-sungguh ( Res severa est verum gaudium).

Kekalahan menyimpan tragika, sementara kemenangan memuat memoria atau hal yang selalu ingin dikenang senantiasa. Kekalahan beruntun begitu menyesakkan hati, karena fakta bicara di mimbar hati yang merindu kemenangan.

Fakta bicara, Garuda Jaya keok 1-3 dari Vietnam. Tiga gol Vietnam dilesakkan Luong Xuang (4), Du Huy (35), dan Phuong. Sementara gol penghibur hati Indonesia dicetak David Maulana pada menit ke-80. Ini kekalahan kali kedua yang ditelan Evan Dimas dan kawan-kawan.

Sebelumnya, tim yang disiapkan menghadapi Piala AFC U-19 tersebut juga menyerah 1-3 dari tuan rumah, Brunei Darussalam, setelah ditahan imbang 0-0 oleh Malaysia pada laga perdana.

Mengapa justru perlu merevolusi mental dan moral bertanding? Toh, Indra Sjafri pernah menyatakannya secara terang benderang, "Dengan terjadinya gol cepat, moral dan skema permainan menjadi runtuh".

Asa untuk merevolusi mental dan moral bertanding bermuara kepada pemahaman akan tiga matra waktu (dimensi waktu) sekaligus, masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Apa yang telah dilakukan di masa lalu, apa yang telah dicapai masa sekarang, dan apa yang ingin diraih di masa depan? Ini pertanyaan krusial yang perlu dijawab oleh seluruh punggawa Timnas Indonesia U-19.

Di masa lampau, Timnas U-19 keluar sebagai juara di Piala AFF U-19 dan melangkah ke Piala Asia U-19 dengan menekuk tim kokoh seperti Korea Selatan. Respons lanjutannya, PSSI menggelar serangkaian ujicoba berlabel "Tur Nusantara" sampai dua jilid dengan tujuan menyiapkan Timnas U-19 jelang Piala Asia U-19.

Laga demi laga Timnas U-19 disiarkan lewat tayangan televisi, kedatangan mereka di beberapa kota disambut layaknya "pasukan yang sudah meraih sukses" dengan pernak-pernik seremoni membuat hati berbunga-bunga bertabur liputan media massa, baik cetak maupun elektronik.

Wawancara sana, wawancara sini, sorot kamera sana, jepret kamera sini, dan bentangan kapret merah menyambut selebriti anyar bernama skuat Timnas U-19.

Merespons taburan kampanye positif yang meninabobokan dan melenakan hati, PSSI mengambil langkah untuk membatasi aneka promosi yang berkutat kepada sukses semusim yang diraih skuat masa depan Indonesia itu.

Pasca kegagalan di Brunei Darussalam, bisa-bisa saja dan boleh-boleh saja PSSI meminjam kosa kata lugas bernuansa revolusioner, bahwa "Timnas U-19 belum ada apa-apanya, dan belum matang benar", tanpa mengecilkan prestasi mereka sebelumnya.

Bahasa senantiasa memantulkan dan menggambarkan keadaan faktual yang ada dalam realitas. Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi secara tertentu merupakan gambar dari dunia (imago mundi), sebagaimana diungkapkan oleh filsuf Ludwig Wittgenstein.

Keadaan faktualnya, Timnas U-19 tampil bermain monoton, miskin kreativitas dalam beberapa laga di "Tur Nusantara".

Berbekal catatan statistik di lapangan, kendati bisa mendominasi penguasaan bola kala menghadapi Brunei dan Vietnam, Timnas U-19 terkesan mati akal atau kesulitan menciptakan gol. Alhasil, baru dua gol mereka ciptakan dalam tiga laga tersebut, dan kebobolan enam gol.

Di mata pelatih Brunei, Kwon Oh-Son, orkestra permainan Evan Dimas dkk. mudah dibaca. Alur transisi permainan Timnas U-19 dari menyerang ke bertahan cukup lamban.

"Indonesia memiliki kelemahan. Mereka lemah saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan," kata pelatih asal Korea Selatan itu. "Dan mereka cukup lamban dalam melakukannya. Oleh karena itu, kami menerapkan serangan balik," ujarnya seperti dilansir Brunei Times.

Merevolusi mental juga menjadi aktual, lantaran Timnas U-19 menemui kesulitan membongkar pertahanan lawan, meski mereka sukses memenangi penguasaan bola. Setelah pertahanan lawan terbongkar, penyelesaian akhir mereka juga tidak sepenuhnya mulus berbuah gol.

Nada untuk merevolusi mental juga dinyatakan secara implisit oleh Sekjen PSSI Joko Driyono. "Kami tidak bisa menanggap hal ini sebuah hal biasa. PSSI sangat serius melihat performa Timnas U-19."

"PSSI bersama BTN telah melakukan koordinasi untuk meminta kepada tim High Performance Unit (HPU) untuk melakukan evaluasi secepatnya. Tujuannya cuma satu, kami masih dalam on the track dengan target yang kami tetapkan, yaitu berprestasi di Piala Asia."

Merevolusi mental  menjadi  aktual lantaran kegagalan dan kekalahan di Brunei Darussalam bukan hal yang biasa, karena dapat saja dinilai serius, karena berkaitan dengan mental dan moral bertanding menghadapi lawan.

Ketika merespons kegagalan dan serial kekalahan di Brunei Darussalam itu, justru ada hal yang tidak revolusioner, karena para pemain Timnas U-19 mencoba untuk menghibur diri dengan mengekspresikan perasaan melalui Twitter.

Mengapa lewat Twitter, apakah hal itu sekedar manifestasi dari kekecewaan atau justru kemacetan komunikasi antara pemain dan staf pelatih?

Bukankah kerapkali digembar-gemborkan bahwa staf pelatih Timnas U-19 seyogyanya bersikap dan berperan seperti teman yang baik dan dapat dipercaya bagi Ivan Dimas dan kawan-kawan yang nota bene masih berusia remaja?

Punggawa Timnas U-19 jelas-jelas berharap bahwa seluruh personel PSSI tidak bersikap layaknya hakim yang siap menjatuhkan vonis kepada mereka. Sebagai remaja, mereka ingin dihargai, meski prestasi mereka mengecewakan.

Jika saja mereka terus disorot dengan aneka pemberitaan yang sifatnya promosi ketika mereka menuai kemenangan, atau mencela bahkan mencibir ketika mereka kalah, maka bukan tidak mungkin prestasi mereka bakal melorot.

Sebagai layaknya remaja, mereka kurang bersabar dalam menata serangan ke lini pertahanan lawan bahkan kurang terampil berkomunikasi, meski penuh semangat dan cepat bertindak dengan tidak hitung-hitung resiko, dengan bersedia memberi segalanya bagi Indonesia.

Tinggal sekarang apakah petinggi PSSI bersama staf pelatih bersedia menjadi orangtua yang mampu dan bersedia mendengarkan mereka, bukan justru berceramah dari mimbar.

Umumnya remaja, punggawa Timnas U-19 memiliki pola dan corak berpikir praktis, langsung kepada pokok persoalan. Artinya, petinggi PSSI bersama tim High Performance Unit (HPU) hendaknya berbicara secara konkret bukan abstrak atau berbelit-belit.

Hargailah dan akuilah prestasi dan usaha mereka selama ini, agar Evan Dimas dan kawan-kawan mampu memacu prestasi yang lebih baik lagi. Mereka sedang menghadapi krisis dengan menelan dua kekalahan.

Yang perlu dilakukan, satu saja yakni berempati kepada apa yang mereka hadapi sekarang dan masa depan. Yang perlu dilakukan pertama dan mendasar justru mencintai mereka, baik dalam kalah maupun menang.

Revolusi mental bagi Timnas U-19 pada akhirnya bermuara kepada ungkapan Latin klasik, bahwa kekalahan menunjukkan apakah engkau mempunyai teman yang sejati atau teman yang hanya namanya saja (Amicum an nomen habeas, aperit  calamitas).

Jadilah sahabat dan teman seperjalanan yang setia bagi Timnas U-19 baik dalam kekalahan maupun dalam kemenangan. Ini revolusi mental sejati yang berpijak dari masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.
(T.A024)  

Oleh A.A. Ariwibowo
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Timnas U-22 siap berlaga di SEA Games

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar