counter

Pewarna alami pada batik bawa dampak ekonomi dan lingkungan

Pewarna alami pada batik bawa dampak ekonomi dan lingkungan

Ilustrasi. Rekor Batik Terpanjang. Para pembatik memecahkan Rekor MURI kategori Batik Terpanjang di Alun-Alun Utara, Yogyakarta, Kamis (2/10). Batik sepanjang 3000 meter yang dibatik oleh 3000 pembatik dan memecahkan rekor MURI untuk kategori Batik Terpanjang tersebut dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober. (ANTARA FOTO/Noveradika)

I feel honoured to be presenting my paper in Oxford and to win the best presenter, well... I didn't see it coming and I didn't even think I had it in me."
London (ANTARA News) - Penelitih lingkungan mengungkapkan bahwa pengunaan pewarna alami dalam industri batik, yang merupakan mahakarya Indonesia dengan nilai budaya yang tinggi, membawa dampak positif baik dari segi ekonomi maupun dari segi lingkungan.

Hal itu diungkapkan Elzavira Felaza, dari Teknik Lingkungan UI dalam paparannya pada hajatan tahunan PPI UK yang mengelar pertemuan ilmiah Indonesian Scholar International Convention (ISIC) membahas kesiapan Indonesia dalam menghadapi tantangan Asean Economic Community (AEC) di Oxford, Inggris, akhir pekan.

Mengikuti Indonesian Scholars International Convention 2014, Elzavira Felaza kepada Antara London, Rabu mengatakan bahwa merupakan pengalaman yang sangat berharga dan juga pengalaman pertama dalam menulis hasil penelitihan serta mempresentasikan di Inggris.

Pada pertemuan ilmiah pelajar Indonesia yang dibuka Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia, Hamzah Thayeb, Elzavira Felaza menyampaikan hasil penelitihannya yang berjudul Konservasi alam Indonesia dan budaya melalui pemberdayaan teknologi adat di UKM industri kreatif.

Dikatakannya alam dan budaya merupakan potensi unik yang dapat optimalkan oleh Indonesia untuk menghadapi tantangan pasar global. Berdasarkan data dari BPS di tahun 2013, UKM berkontribusi 56 persen dari Gross Domestic Product (GDP) Indonesia.

Menurut Elzavira Felaza, salah satu jenis dari UKM yang memiliki pengaruh besar di Indonesia adalah UKM industri kreatif batik. Penggunaan pewarna alami dalam industri batik membawa dampak positif baik dari segi ekonomi maupun dari segi lingkungan.

UKM batik ramah lingkungan yang menggunakan bahan dari pewarna alami merupakan salah satu cara untuk menjaga alam dan juga budaya. Ditambah lagi dengan peluang Indonesia dari segi keanekaragaman hayati, dimana saat ini terdapat 150 jenis flora di Indonesia yang memiliki potensi menjadi sumber zat pewarna alami.

Untuk memahami proses tradisional batik dan juga pewarna alami yang digunakan, penelitian telah dilakukan dengan studi kasus di salah satu UKM batik di Yogyakarta, ujarnya.

Batik dengan proses pembuatan tradisional dan penggunaan pewarna alam akan menghasilkan keuntungan, yaitu nilai jual yang lebih tinggi karena keunikan budaya dan bahan yang ramah lingkungan akan lebih menarik bagi pasar global yang saat ini juga menaruh fokus pada industri ramah lingkungan.

Untuk optimalisasi usaha ini, diperlukan kolaborasi dari berbagai sektor, seperti perdagangan, pertanian serta pendidikan dan budaya. Dari sektor perdagangan dapat membuat regulasi terkait dengan pemberian label pada batik tradisional dengan pewarna alami sehingga pasar akan lebih memahaminya.

Sektor pertanian dapat membantu penanaman dari sumber zat pewarna alami tersebut, karena usaha ini bukan tentang menghabiskan sumber daya alami Indonesia, namun mengoptimalkan penggunaannya dengan tujuan budidaya.

Sektor pendidikan dan budaya dapat membantu dengan memberikan lebih banyak edukasi terkait dengan nilai budaya dari batik kepada masyarakat Indonesia dan juga global, sehingga masyarakat akan lebih memahami dan menghargai nilai budaya batik tersebut.

Dikatakannya dengan usaha ini maka diharapkan Indonesia dapat menjaga alam, budaya dan juga dapat bersaing dengan baik di pasar bebas ASEAN dan AEC.

Elzavira Felaza mengakui mengikuti Indonesian Scholars International Convention 2014 merupakan pengalaman yang sangat berharga baginya . "Sejujurnya, ini merupakan pengalaman pertama saya dalam menulis paper apalagi mempresentasikan paper dengan Bahasa Inggris," ujar Elzavira Felaza.

"I feel honoured to be presenting my paper in Oxford and to win the best presenter, well... I didn't see it coming and I didn't even think I had it in me," ujar Elzavira Felaza yang menyampaikan kesan kesan dalam mengikuti ISIC 2014.

Diakuinyan banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang dapat diambil dalam mengikuti kegiatan ini, baik saat acara maupun saat penelitian. Pada saat penelitian narasumber memberikan banyak inspirasi dan diharapankannya hasil penelitihannya akan terwujud dan bisa membawa ide unik dan ramah lingkungan dari usaha yang telah dilakukan untuk dipresentasikan di konferensi.

Menurut Elzavira Felaza, seluruh presenter dan juga speakers dalam conference ini memberikan banyak inspirasi dan diharap output dari konferensi ini benar-benar dapat digunakan untuk membantu Indonesia menghadapi pasar global.(ZG)

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Mempromosikan batik dalam sejarah cagar budaya

Komentar