Guru Gunung Kidul kesulitan isi rapor K-13

Pengisian rapor K-13 jauh lebih sulit. Sehingga, pengerjaan itu memerlukan ketelitian dan waktu yang lebih lama lagi. Saya baru menyelesaikan 80 persen, padahal Sabtu (20/12) sudah dibagikan,"
Gunung Kidul (ANTARA News) - Sejumlah guru di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami kesulitan dalam menerapkan pengisian rapor semester pertama Tahun Ajaran 2013/2014 sesuai Kurikulum 2013.

Salah seorang guru di Gunung Kidul Anik Istiani di Gunung Kidul, Kamis mengakui pengisian rapor berdasarkan Kurikulum 2013 (K13) harus mendeskripsikan dengan narasi nilai yang diperoleh siswa berbeda dengan Kurikulum 2006.

"Pengisian rapor K-13 jauh lebih sulit. Sehingga, pengerjaan itu memerlukan ketelitian dan waktu yang lebih lama lagi. Saya baru menyelesaikan 80 persen, padahal Sabtu (20/12) sudah dibagikan," kata Anik.

Dia mengatakan dalam Kurikulum 2006 siswa diberikan rapor, sedangkan sekarang diberikan lembaran yang sudah terformat dalam sebuah "soft file".

"Pengisiannya lebih sulit karena guru harus mendiskripsikan nilai yang diperoleh siswa dengan sebuah narasi. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi rapot lebih lama," katanya.

Anik mengatakan dirinya membuat narasi dan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan mengisi rapor kurikulum sebelumnya. Apabila biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengisi rapor siswa hanya membutuhkan beberapa hari dengan model K-13 ini waktu yang dibutuhkan lebih dari sepekan.

Hal senada diungkapkan Bayu mengakui jika pengisian rapor K-13 memang lebih sulit. Dia menduga kesulitan mengisi rapor karena sosialisasi K-13 dirasa masih kurang. Dinas memang pernah memberikan pelatihan, namun tahapan yang diberikan belum sampai ke pengisian rapor.

"Akibatnya, banyak guru yang sekarang mengalami kesulitan. Banyak yang belum selesai," katanya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunung Kidul Sudodo mengakui jika pengisian rapor lebih rumit dan membutuhkan waktu lama.

"Apabila dahulu cukup memberikan nilai selesai, tapi sekarang harus mendiskripsikan," katanya.

Ia mengatakan pendiskripsian ini untuk psikologis siswa. Kemampuan siswa dalam menerima dan memahami pelajaran berbeda-beda sehingga K-13 memang dibuat untuk mengeluarkan seluruh potensi yang ada.

"Kurikulum ini dibuat untuk mengeluarkan potensi anak. Jadi saat ini tidak ada lagi yang namanya nilai merah," katanya.

Pewarta: Sutarmi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2014

KPAI: Belajar tatap muka harus dengan infrastruktur yang mendukung 3M

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar