Jakarta (ANTARA News) - Ramadhan dan Lebaran boleh jadi merupakan masa rentan bagi harga dan stok bahan pokok, dan saat itu pula pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk menjamin kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga terjangkau.

Untuk itu Presiden Joko Widodo meminta seluruh menteri dalam Kabinet Kerja untuk terus memantau ketersediaan stok dan juga harga barang kebutuhan pokok selama bulan puasa dan menjelang Idul Fitri.

Presiden saat membuka rapat terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (3/6), mengatakan ingin memastikan bahwa stok dan stabilitas harga pangan aman menjelang bulan puasa dan menjelang Lebaran.

Kepala Negara meminta pemantauan dilaksanakan secara seksama sekaligus dilakukan langkah-langkah bila kondisi menunjukkan kenaikan harga maupun persediaan stok yang berkurang.

"Karena gejolak harga isu krusial setiap tahun ada, saya harapkan dan minta seluruh jajaran pemerintahan cepat dan tanggap menangani setiap pergerakan, kita lihat Mei kemarin inflasi tinggi, saya harapkan terutama kementerian yang berkaitan dengan ini Bulog dan Kemendag pemantauan pasar dan harga dan kalau ada masalah segera temukan solusi untuk menangani dan kalau perlu melakukan operasi pasar," kata Presiden.

Ditambahkannya, "Saya kira kita sudah berbicara dua kali untuk persiapan ini dan betul-betul saya ingin pastikan stok dan stabilitas harga pangan terjaga. Dan juga pastikan kebutuhan rakyat atas pangan harga betul-betul terjangkau dan terpenuhi."

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan pemerintah menjamin kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah akan tercukupi.

Menurutnya, secara umum pasokan dan stok barang kebutuhan pokok di seluruh provinsi cukup untuk memenuhi kebutuhan puasa dan Lebaran. Stok secara nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga minggu sampai dengan enam bulan ke depan.

Rachmat mengatakan, para pelaku usaha ritel telah menambah pasokan 30-50 persen untuk produk makanan minuman olahan dari kondisi normal serta memperbaiki sistem pengangkutan barang dengan melakukan pengiriman barang pada malam hari, khususnya di wilayah Jakarta.

"Beberapa ritel mulai menyewa gudang sementara untuk produk makanan minuman yang tidak jauh dari gerai mereka untuk persiapan puasa dan Lebaran," kata Rachmat.

Terkait dengan harga rata-rata nasional barang kebutuhan pokok, Rachmat mengatakan bahwa kondisi saat ini masih relatif stabil.

"Khusus untuk cabai dan bawang merah, Kementan serta asosiasi atau pelaku usaha memastikan akan ada pasokan dari potensi panen sehingga diharapkan harga dalam satu minggu ke depan harga akan turun," kata mendag.


Tangkap penimbun

Ulah penimbun selama Ramadhan dan jelang Lebaran selalu saja ada setiap tahun. Namun pemerintah tak mau kalah dengan penimbun dan terus mengancam untuk menindak jika diketahui melakukan tindakan tak terpuji itu.

Presiden Joko Widodo juga meminta Kepolisian menangkap mereka yang melakukan upaya penimbunan dan spekulasi barang kebutuhan pokok menjelang Ramadhan dan Lebaran (Idul Fitri 1436 H) yang bisa menyebabkan fluktuasi harga.

"Saya juga ingin perintahkan Kapolri tindak tegas penimbun BBM dan kebutuhan barang pokok, juga spekulan yang mengambil keuntungan," kata Presiden.

Selain meminta tindakan tegas bagi penimbun dan spekulan, Presiden juga meminta para menteri terkait untuk memantau harga dan stok barang kebutuhan pokok.

"Karena gejolak harga isu krusial setiap tahun ada, saya harapkan dan minta seluruh jajaran pemerintahan cepat dan tanggap menangani setiap pergerakan, kita lihat Mei kemarin inflasi tinggi, saya harapkan terutama kementerian yang berkaitan dengan ini Bulog dan Kemendag pemantauan pasar dan harga, kalau ada masalah segera temukan solusi untuk menangani dan kalau perlu melakukan operasi pasar," kata Presiden.

Ditambahkannya, dirinya serius mempersiapkan ketersediaan stok pangan dan stabilitas harga pangan terjaga.

Menteri Rachmat Gobel mengatakan hasil dari rapat koordinasi antara instansi terkait dan para pelaku usaha telah menyepakati secara bersama-sama untuk menjaga kepercayaan publik kepada pemerintah khususnya dalam penyediaan barang kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

"Harga kebutuhan pokok yang terjangkau tersebut pada tingkat yang dapat memberi keuntungan yang cukup bagi pelaku usaha, serta harga yang selaras dengan daya beli masyarakat," kata Rachmat.

Rachmat menjelaskan, selain hal tersebut juga menjaga, mengawal dan mengamankan kelancaran disribusi dengan meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar instansi dan pelaku usaha baik di pusat maupun di daerah.

Dia menambahkan, para pelaku usaha juga sepakat untuk tidak melakukan penimbunan dan atau melakukan upaya spekulasi harga barang kebutuhan pokok yang dapat merugikan masyaraka, dan juga melakukan penataan pasar tumpah dikarenakan pada saat mendekati Lebaran akan terjadi peningkatan aktivitas perdagangan sehingga dapat menggangu lalu lintas.

"Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok kebutuhan pokok cukup sampai pascalebaran," ujar Rachmat.

Bukan hanya kebutuhan pokok makanan dan minuman saja yang harus dipenuhi selama Ramadhan dan Lebaran, tapi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) juga harus dipastikan cukup agar tak mengganggu sarana transportasi dan distribusi.

Untuk itu PT Pertamina (Persero) menerjunkan satuan tugas (satgas) khusus untuk memastikan pasokan BBM dan liquified petroleum gas (LPG) dapat terjaga saat bulan Ramadhan hingga Lebaran.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda A. Pusponegoro di Jakarta, mengatakan Satgas BBM bekerja sama dengan Kementerian ESDM selaku regulator, ada BPH Migas, dan Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas).

Satgas tersebut akan mulai bekerja H-14 hingga H+7 Lebaran, dan akan terus siaga untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan BBM masyarakat.

Satgas tersebut akan diselenggarakan dalam skala nasional, tetapi akan lebih difokuskan di jalur mudik Pulau Jawa menuju Sumatera. "Jadi memang itu yang kita lihat akan padat dengan pemudik," katanya.

Apabila Pertamina harus mendistribusikan BBM maka akan bekerjasama dengan kepolisian untuk pengaturan "contra flow" apabila mobil tanki perlu menerobos kemacetan.

Terkait dengan hal tersebut, Pertamina memperkirakan akan terjadi peningkatan pada bahan bakar Premium dan BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Plus.

"Karena kita tahu, menjelang Lebaran biasanya banyak industri yang tidak menjalankan usahanya. Akibatnya konsumsi Solar juga menurun. Intinya lebih fokus ke penyediaan Premium, Pertamax dan Pertamax Plus, serta LPG," ujarnya.

Pada kondisi normal, konsumsi Premium mencapai 75 ribu kiloliter per hari dan LPG mencapai 19 ribu metrik ton per hari, sedangkan pada Ramadhan dan Lebaran akan mengalami peningkatan hingga 10-15 persen.

Pertamina akan meningkatkan jumlah pasokan BBM dan LPG untuk menghadapi lonjakan konsumsi yang diperkirakan akan terjadi pada H-1 hingga H+3 Lebaran.

Selain itu Pertamina juga akan menaikkan waktu cadangan dari yang normalnya 18 hari menjadi 20 hari pada bulan Ramadhan dan Lebaran.

Terkait dengan pemenuhan pasokan BBM, Pertamina akan menyiapkan puluhan mobil tanki yang terisi penuh sehingga bisa diterjunkan pada jalur-jalur mudik seperti Pantura, jalur selatan, dan sejumlah daerah yang selama ini dinilai cukup padat dengan pemudik.

Sama seperti BBM, untuk LPG juga akan disiapkan mobil berisi gas LPG, ada yang kapasitas 15 ribu kilogram, 20 rib kilogram. Itu siaga di jalanan, sehingga bisa cepat bergerak ke SPBE," kata Wianda.

Oleh Ahmad Wijaya
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2015