Laut Mati menyusut, menyisakan lubang-lubang berbahaya

Laut Mati menyusut, menyisakan lubang-lubang berbahaya

Kanal menuju Laut Mati terlihat di Israel, Senin (27/7). Laut mati mengering, dan airnya berkurang lebih dari satu meter per tahun, ratusan lubang, beberapa sebesar lapangan basket, beberapa sedalam bangunan dua tingkat, memenuhi daratan yang sebelumnya merupakan tepi pantai. (REUTERS/Amir Cohen)

Ein Gedi, Israel (ANTARA News) - Kebun kurma dengan daun-daun yang telah lama gugur dan batang yang terkulai dalam panas yang membakar di titik paling rendah Bumi adalah korban terbaru peningkatan dramatis jumlah lubang pembawa petaka di sepanjang pantai Laut Mati.

Para pekerja sudah berhenti merawat pohon-pohon kurma itu, takut Bumi akan menelan mereka.

Laut Mati menyusut, dan saat airnya susut pada laju lebih dari satu meter per tahun, ratusan lubang muncul, beberapa seukuran lapangan basket, beberapa sedalam bangunan dua lantai, menghabiskan tempat yang dulu garis pantai.

Pohon-pohon kurma berbaris di sepanjang jalan dua jalur di gurun--jalur arteri utama Utara-Selatan yang memotong Israel dan Tepi Barat Palestina-- yang ditutup enam bulan lalu ketika lubang menganga terbuka di bawah aspal.

Ratusan lubang baru muncul setiap tahun, dan lajunya diperkirakan meningkat.

Para pejabat tidak punya data mengenai perluasan kerusakan, tapi jaringan listrik menyusut dan caravan dan bungalo tertelan. Kadang-kadang pejalan kaki terluka karena jatuh ke salah satu lubang.

"Ini bukan masalah yang bisa kita atasi sendiri," kata Dov Litvinoff, wali kota kawasan Tamar, yang meliputi belahan selatan Laut Mati di Israel.

Penyusutan laut itu utamanya terjadi karena sumber-sumber air alami yang mengalir ke selatan melalui lembah Sungai Jordan dari Suriah dan Lebanon telah dialihkan untuk pertanian dan air minum.

Dan kegiatan pertambangan bertanggung jawab atas 30 persen penurunan itu menurut kelompok riset parlemen Israel.

Pemindahan infrastruktur merupakan solusi sementara, kata Wali Kota.

Kemunculan lubang-lubang itu hanya berhenti ketika air Laut Mati pulih, dan itu membutuhkan inisiatif internasional karena itu juga berbatasan dengan Yordania dan Tepi Barat.

Bahkan jika semua orang terlibat, dia mengatakan, akan butuh berpuluh-puluh tahun untuk membalikkan kerusakan ekologis danau garam yang berada lebih dari 400 meter di bawah permukaan laut, titik terendah di daratan kering, cekungan yang terbakar panas terik.

Bank Dunia mempromosikan proyek desalinasi air dari Laut Merah untuk memompa hasil samping air asin ke Laut Mati, tapi masih belum jelas apakah proyek itu akan berjalan, dan kelompok-kelompok lingkungan menyatakan itu hanya akan mewakili setetes dalam satu ember.


Dampak pelarutan garam

Laut Mati adalah tempat favorit para turis, yang menikmati mengapung tanpa usaha di air berkadar garam tinggi dan merawat kulit mereka dengan lumpur kaya mineral di pantai-pantainya.

Kawasan itu juga mendukung industri tambang besar. Israel Chemicals (ICL) dan Arab Potash Company dari Yordania mengekstrak mineral seperti pupuk potas (kalium karbonat) dan bromine untuk ekspor ke seluruh dunia.

Lubang-lubang petaka muncul di pantai-pantai Laut Mati di wilayah Israel, tapi di tidak muncul di Yordania yang pantainya lebih curam menurut Guy Dunenfeld, kepala insinyur Dewan Regional Tamar.

Pantai di Israel datar, dan akibatnya air menyurut dengan cepat, katanya.

Jauh di dalam tanah ada lapisan garam 30 meter yang terbentuk selama ribuan tahun. Tanpa air Laut Mati untuk melindunginya, air dari hujan atau banjir gurun meresap ke bawah tanah dan melarutkan lapisan garam, menciptakan rongga yang pada akhirnya runtuh, menghisap tanah.

Geological Survey of Israel sudah mulai memantau perubahan kontur tanah dengan citra-citra satelit yang bisa memberi sinyal pembentukan lubang-lubang.

"Kadang kala mereka memberi kita pemberitahuan sekitar sepekan, termasuk lubang yang merusak jalan raya," kata Dunenfeld.

"Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan dengan informasi itu selain mengirimkan tim, menutup lubang baru dengan tanah dan memperbaiki kerusakan setelah itu terjadi."

Itu adalah sesuatu, tapi tidak cukup untuk menyakinkan para pekerja di kebun kurma yang masih terlalu takut untuk kembali. (REUTERS)


Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar