counter

Ikhtiar memperbaiki penyelenggaraan ibadah haji

Ikhtiar memperbaiki penyelenggaraan ibadah haji

Petugas Daker Airport Madinah saat membantu mendorong kursi roda jamaah lansia dari kloter UPG 27 embarkasi Makassar menuju counter imigrasi (25/10). (kemenag)

Jakarta (ANTARA News) - Meski diwarnai peristiwa Mina dan jatuhnya derek (crane) di Masjidil Haram, Mekkah, namun seluruh kegiatan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2015 dapat dituntaskan.

Walaupun sebagian jamaah haji IndonesIa dalam posisi sebagai korban, namun tampaknya dua peristiwa itu menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan haji oleh pemerintah Indonesia. Publik berharap dan berdoa peristiwa--katakanlah musibah--semacam itu tidak terjadi lagi.

Seluruh catatan penyelenggaraan haji dibahas dalam rapat kerja nasional (rakernas) Kementerian Agama, pekan lalu. Selain mengevaluasi penyelenggaraan tahun ini, rakernas juga membahas persiapan ibadah haji tahun 2016.

Jajaran Kementerian Agama menyadari bahwa tantangan penyelenggaraan haji tahun depan bukan ringan, namun akan semakin menghadapi tantangan. Bukan saja tantangan untuk menyelesaikan persoalan rutin, namun juga berkaitan dengan bertambahnya kuota haji yang diberikan Pemerintah Arab Saudi.

Kuota haji Indonesia pada 2015 sendiri sebanyak 168.800 setelah dipotong 20 persen dampak dari renovasi dan perluasan Masjidil Haram, sementara kuota normal Indonesia adalah 210 ribu. Tahun depan kuota akan kembali normal ditambah dengan 20 ribu setelah pemerintah Indonesia melakukan lobi ke Pemerintah Saudi.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyadari pengembalian dan penambahan kuota haji Indonesia tahun depan akan memiliki dampak besar bagi pelayanan jamaah haji Indonesia.

"Implikasinya besar, bukan hanya akomodasi dan konsumsi tapi juga petugas kita," kata Lukman pada Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji tahun 1436 H/2015 M di Jakarta.

Dampak dari pengembalian kuota dan penambahan 20 ribu jamaah adalah pemerintah harus bersiap untuk menyelenggarakan berbagai pelayanan haji untuk jumlah jamaah yang lebih besar daripada tahun ini. "2016 adalah tantangan besar," kata Lukman.



Dipertahankan

Bagi Lukman Hakim ada tujuh hal yang menjadi prestasi penyelenggaraan haji 2015 sehingga perlu dipertahankan untuk tahun berikutnya kendati terdapat hal-hal yang perlu dievaluasi.

Pertama, terkait pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang dilakukan dalam dua tahap. Dengan kebijakan ini dapat mendorong penyerapan kuota di banyak kota.

Kedua, efisiensi pendaratan pesawat jamaah langsung di Madinah. Dengan mekanisme baru ini jamaah lebih bugar ketika beribadah karena tidak perlu naik bus berjam-jam lamanya dibandingkan jika mendarat di Jeddah.

Ketiga, ada pemerataan kualitas pemondokan haji yang mendapatkan hotel kualitas standar bintang tiga. Keempat, perbaikan kualitas transportasi bus selama di Arab Saudi yaitu di Jeddah, Madinah dan Mekkah.

Kendati ada permasalahan, tetapi perbaikan untuk penyediaan transportasi pada gelombang kedua. Dampaknya, banyak jamaah memuji kualitas bus yang baru dan bagus.

Kelima, perbaikan kualitas katering untuk jamaah haji. Secara umum, tidak ada keluhan mendasar soal makanan. Kalau soal rasa itu sangat bervariasi di antara jamaah dan tergantung selera.

Keenam, adanya penambahan fasilitas tenda untuk kenyamanan jamaah haji saat di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), seperti dengan penambahan penyejuk udara.

Ketujuh, optimalisasi teknologi dengan aplikasi haji pintar yang banyak membantu jamaah haji seperti info penginapan, jadwal ibadah dan fitur-fitur di dalam aplikasi telepon seluler ini.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Abdul Djamil mengharapkan penyelenggaraan haji 2015 menjadi pembelajaran bagi pemerintah sehingga ke depannya mampu meningkatkan pelayanan haji.

Menurut Abdul, penyelenggaraan haji tahun ini sudah lebih baik dari 2014 seperti penyelenggaraan pemondokan yang lebih efektif dengan efisiensi lokasi. Kemudian pemangkasan angka Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji, penambahan fasilitas haji selama beribadah seperti penyejuk udara di tenda, pengubahan rute penerbangan yang lebih efisiensi ibadah dan peningkatan lainnya.

Kendati demikian, pihaknya tidak boleh berpuas diri dengan tercapainya peningkatan kualitas pelayanan haji itu karena perbaikan dan inovasi harus terus dilakukan.

Disadari bahwa tahun depan terdapat konsekuensi dari kembali kuota dan penambahan kuota haji Indonesia dengan persiapan sumber daya manusia untuk pelayanan haji.

Kemungkinan penambahan jamaah asal Indonesia itu sangat terbuka lebar. Berdasarkan perkiraan, perluasan Masjidil Haram akan selesai sebelum musim haji 2016 sehingga kuota haji kembali normal.

Dari tambahan kuota 20 ribu orang, 10 ribu di antaranya sudah ada kepastian. Sisanya 10 ribu lainnya tinggal menunggu penandatanganan nota kesepahaman pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pada April 2016.



Soal Visa

Ketua Komisi VIII DPR Saleh Daulay menyampaikan sejumlah evaluasi atas penyelenggaraan haji oleh pemerintah.

Misalnya adanya kendala pemerintah terkait keterlambatan visa yang menyita perhatian publik serta jumlah petugas haji yang tidak seimbang dengan jamaahnya.

Karena pemerintah Indonesia perlu melakukan langkah-langkah diplomatik yang diperlukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap jamaah haji.

Selain itu, perlu lobi intensif ke Saudi untuk kemudahan proses pembuatan visa, pelayanan selama di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armina), tenda dan karpet yang lebih baik pada saat wukuf. Selain itu pendirian klinik di Arafah, penempatan jamaah haji di Mina bukan di Mina Jadid, katering di Armina, transportasi bus shalawat yang lebih banyak dan pengakuan secara formal bagi petugas-petugas haji Indonesia.

Perbaikan itu perlu pula ditambah pula dengan meningkatkan kualitas pelayanan pengurusan visa, transportasi lokal di Saudi, rasio petugas yang tidak memadai dan sistem rekrutmen petugas yang dinilai belum sesuai standar dan kebutuhan. Begitu juga petugas kesehatan terlalu sedikit dan fasilitas kesehatan yang belum memadai, termasuk perlindungan jamaah yang belum maksimal.

Ada dua prinsip dasar yang tampaknya perlu melandasi evaluasi untuk perbaikan pada pelayanan haji tahun depan, yaitu "hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini,"

Oleh Sri Muryono
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Pergerakan jamaah dari Arafah ke Mudzalifah

Komentar