Tokyo (ANTARA News) - Mata uang negara-negara berkembang Asia dengan imbal hasil tinggi menderita kerugian besar terhadap dolar pada Senin di Asia, setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat mendukung kasus untuk Federal Reserve menaikkan suku bunga tahun ini.

Won Korea Selatan dan ringgit Malaysia merosot lebih dari satu persen, sedangkan rupiah Indonesia turun karena data perdagangan Tiongkok yang lemah juga menjadikan mereka sebagai korban.

Greenback mencapai tertinggi baru dua bulan terhadap yen setelah data Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat lalu menunjukkan ekonomi utama dunia itu menambahkan 271.000 pekerjaan baru bersih pada bulan lalu, hampir dua kali lipat yang terlihat pada September.

Data menunjukkan bahwa kekhawatiran yang berlebihan atas pelambatan pertumbuhan negara-negara berkembang menginfeksi ekonomi AS.

Greenback naik menjadi 123,33 yen dari 123,16 yen pada Jumat di New York, setelah duduk di 121,66 pada Jumat pagi di Asia.

Tiongkok pada Minggu melaporkan angka perdagangan mengecewakan yang menekan mata uang negara berkembang terkait komoditas, karena impor ke ekonomi nomor dua dunia itu jatuh hampir seperlima pada Oktober dari setahun lalu. Ekspor juga terus menurun akibat permintaan luar negeri lesu.

"Dolar yang kuat adalah sentral dalam langkah hari ini karena data penggajian non pertanian sangat kuat,"Nizam Idris, kepala analis mata uang dan pendapatan tetap di Macquarie Bank Ltd. di Singapura, mengatakan kepada Bloomberg News.

"Berita Tiongkok buruk dan itu tidak membantu."

Unit negara berkembang berimbal hasil lebih tinggi, atau berisiko, tampak telah terpukul tahun ini karena kekhawatiran pelarian modal ke Amerika Serikat ketika para investor mencari investasi yang lebih baik dan lebih aman didukung kenaikan suku bunga AS yang semakin dekat.

Greenback telah mengalami tekana jual terhadap mata uang negara-negara berkembang pada Oktober, karena The Fed AS mempertimbangkan menunda kenaikan suku bunga sampai 2016 akibat melemahnya ekonomi global, khususnya Tiongkok.

"Dengan kenaikan suku bunga AS semakin dekat, penurunan impor menempatkan fokus pada pelambatan ekonomi Tiongkok, dan penurunan harga-harag sumber daya atau saham-saham negara berkembang meningkatkan penghindaran risiko," Toshiya Yamauchi, seorang analis senior Ueda Harlow Ltd. penyedia jasa margin-trading di Tokyo, menulis dalam sebuah catatan kepada nasabahnya.

"Dalam lingkungan itu, dolar dan yen akan dibeli."

Won turun 1,3 persen terhadap dolar, sementara ringgit turun 1,3 persen dan rupiah turun 0,7 persen.

Dalam penawaran lain, dolar Singapura turun tipis 0,1 persen, baht Thailand 0,2 persen lebih rendah dan dolar Taiwan juga turun 0,2 persen.

Euro naik menjadi 1,0769 dolar dan 132,82 yen dari 1,0742 dolar dan 132,30 yen di perdagangan AS, demikian AFP melaporkan.

(A026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2015