Jakarta (ANTARA News) - Kalangan produsen pakan ternak nasional mengungkapkan selama Januari sampai Februari 2007 mengalami kerugian mencapai 60 juta AS akibat berjangkitnya wabah flu burung di Tanah Air. Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Indonesia, Fenny F Gunadi, di Jakarta, Senin mengatakan wabah flu burung telah menurunkan permintaan daging ayam sebesar 40-50 persen. "Dengan turunnya permintaan daging, maka peternak menjadi enggan untuk segera mengganti ayam siap panen dengan bibit ayam baru atau DOC (Day Old Chicken)," katanya. Selain itu, tambahnya saat menyerahkan bantuan makanan ke para pengungsi korban banjir di kampung Melayu Jakarta, mereka juga menahan ternak ayam untuk segera panen. Biasanya dengan bobot 1,8 kilogram sudah di panen, tapi dengan kondisi sekarang ini bisa sampai tiga-lima kilogram baru dijual. "Kondisi seperti itu dikhawatirkan mengakibatkan kekosongan pasokan daging ayam untuk jangka waktu sekitar satu setengah bulan," katanya. Fenny menyatakan, penurunan permintaan daging ayam tersebut berpengaruh pada merosotnya kebutuhan pakan ternak sebesar 5-10 persen. Namun, menurut dia, tingkat penurunan itu akan menjadi 40-50 persen jika keadaan seperti ini terus terjadi. Dalam kondisi normal, permintaan pakan ternak nasional mencapai 60,5 juta ton. Dikatakannya, kesulitan produsen pakan ternak semakin meruncing dengan melonjaknya harga jagung yang merupakan 50 persen dari bahan baku pakan. September 2006 harga per kilo hanya Rp1.700, namun sekarang mencapai Rp2.100-Rp2.300 per kilogram. Entah sampai kapan produsen pakan ternak bisa bertahan, ujarnya. Ia menjelaskan, GPMT terdiri dari produsen pakan ternak dengan anggota 40 pabrik. Kapasitas terpasang mencapai 15 juta ton per tahun, namun sampai sekarang utilitasnya hanya 7,4 juta ton per tahun. Sementara itu, Ketua Umum Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional (Pinsar), Hartono mengatakan banjir telah mengakibatkan harga telur mengalami kenaikan sekitar 10 persen dari Rp7.500/kg menjadi Rp8.500/kg di tingkat peternak.(*)

Editor: Heru Purwanto
Copyright © ANTARA 2007