Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgasus) untuk mempercepat penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang angka kejadiannya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. "Kita akan membentuk `task force` khusus DBD sebagai antisipasi sebelum terjadi ledakan kasus DBD. Ini dilakukan dalam rangka akselerasi penanggulangan DBD," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di Jakarta, Selasa. Ia mengatakan Satgas Khusus DBD itu akan ditugasi untuk memantau dan menemukan kasus infeksi sedini mungkin supaya tingkat kematian akibat penyakit yang antara lain ditandai dengan gejala panas tinggi dan sakit kepala berat tersebut dapat ditekan. "Jadi nanti mereka yang akan menjemput bola, menemukan yang sakit dan membawanya ke sarana kesehatan terdekat," ujarnya tentang Satgas Khusus yang terdiri atas aparat lintas sektor dan anggota masyarakat itu. Menteri Kesehatan menambahkan, Satgas Khusus yang akan dibentuk dari tingkat desa/kelurahan hingga provinsi itu juga bertugas menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya penanggulangan DBD. Sebab, ia melanjutkan, DBD tidak akan pernah bisa diberantas tanpa peran serta aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan. Ia menjelaskan, dalam hal ini masyarakat akan digerakkan untuk melaksanakan gerakan 3M (menutup, mengubur dan menguras tempat penampungan air-red), membasmi jentik nyamuk dengan melakukan abatesasi dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa meski lebih rendah dibanding periode yang sama namun angka kejadian DBD, khususnya di daerah yang beberapa waktu lalu dilanda banjir, cukup tinggi. Selama dua bulan terakhir (1 Januari-12 Februari 2007-red), DBD telah menjangkiti 16.803 orang di seluruh Indonesia dan 267 diantaranya meninggal dunia. Kasus DBD terbanyak dilaporkan terjadi di Jawa Barat (4.917 pasien, 86 meninggal) dan disusul berturut-turut DKI Jakarta (2.970 pasien, 9 meninggal), Jawa Timur (2.081 pasien, 45 meninggal), Jawa Tengah (1.745 pasien, 57 meninggal), Sumatera Selatan (1.362 kasus, 9 meninggal), Kalimantan Timur (1.013 pasien, 24 meninggal), Lampung (793 pasien, 5 meninggal serta Banten (343 pasien, 5 meninggal). Selama periode tersebut, tingkat kematian (Case fatality Rate/CFR) akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu mencapai 1,59 persen atau masih jauh dari target pemerintah untuk menurunkan CFR menjadi lebih kecil dari satu persen.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2007