Pengamat : follower medsos tidak berpengaruh pada suara pemilu

Pengamat : follower medsos tidak berpengaruh pada suara pemilu

ilustrasi Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) Djayadi Hanan memaparkan hasil survei kinerja satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo - Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa (20/10/2015). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA News) - Banyaknya follower partai politik di media sosial (medsos) tidak akan berpengaruh terhadap jumlah pemilih dalam pemilihan umum, khususnya pemilu 2019,  sebab para followers belum tentu mempunyai hak pilih atau kalaupun punya hak pilih tapi tidak menggunakan haknya, kata pengamat.

"Sebagian besar follower media sosial adalah anak-anak muda umur 17-25 tahun dan juga berasal dari masyarakat perkotaan," kata Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Djayadi Hanan saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan perkiraan Djayadi, jumlah pemilih pemula yang berusia 17-25 tahun dan aktif di media sosial sebanyak 15 persen dari jumlah pemilih nasional 180 juta. "Ini cukup potensial digarap. Minimal mengenalkan program partai kepada anak-anak muda dan juga masyarakat urban," ujarnya.

Namun jangan menjadi prioritas utama, sebab jumlah pemilih terbesar tetap masyarakat yang tinggal dipedesaan yang tidak memiliki akses Internet. "Medsos salah satu cara utama untuk menjaring anak muda," kata Djayadi.

Ia sendiri mengaku tidak kaget dengan hasil survei yang menempatkan, Partai Gerindra dan PDIP sebagai juara 1 dan 2 yang mempunyai followers terbanyak di media sosial. Sebab, sedari awal partai tersebut menggarap serius anak muda di dunia maya.

Sedangkan untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga tidak mengherankan karena sedari awal partai debutan tersebut memang serius menggarap media sosial. "Yang penting bagaimana cara mengolah strategi kampanye melalui medsos yang disukai anak muda dan tidak membosankan," saran dia.

Pada pemilu 2019, Djayadi memprediksi tidak akan ada kejutan berarti. Sebab, sudah bisa dipastikan empat besar partai akan dikuasai PDIP, Golkar, Gerindra dan Demokrat. "Yang seru justru perebutan partai papan tengah karena masih susah diprediksi. Apalagi beberapa partai baru yang cukup agresif mendekati pemilih pemula," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan temuan Instute for Transformation Studies (INTRANS) di media sosial seperti, Facebook fans, Twitter followers, Instragram followers, Google+ followers, dan YouTube subscribers, yang dirilis Jumat lalu (29/1), Gerindra sebagai partai yang mempunyai paling banyak pengikut sebanyak 3,8 juta followers.

Selanjutnya, PDIP 1,6 juta pengikut, Partai Solidaritas Indonesia 1,1 juta. Menyusul berikutnya, Partai Hanura (555 ribu pengikut), PKS (250 ribu), Demokrat (189 ribu), PAN (143 ribu), Golkar (104 ribu), Perindo (48 ribu), NasDem (47 ribu), PPP (16 ribu) dan PKB (13 ribu).

Pewarta: Ruslan Burhani
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar