Profesor matematika jadi presiden Afrika Tengah

Profesor matematika jadi presiden Afrika Tengah

Solidaritas Afrika Tengah Sejumlah aktivis dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) menggelar aksi teatrikal di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (7/3). Dalam aksinya mereka mengajak masyarakat Indonesia untuk peduli memberikan bantuan kemanusian kepada pengungsian yang menjadi korban atas kekerasan di Republik Afrika Tengah yang berubah menjadi kekerasan genosida. ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan ()

Bangui, Republik Afrika Tengah (ANTARA News) - Faustin-Archange Touadera, mantan perdana menteri dan profesor matematika, diumumkan sebagai pemenang Pemilu presiden di Republik Afrika Tengah.

Pemilu yang putaran pertamanya berlangsung 30 Desember tahun lalu itu dianggap titik awal setelah bertahun-tahun dilanda kekerasan sektarian.

Touadera menang dengan 62,71 persen suara, sedangkan lawannya Anicet-Georges Dologuele mendapatkan 37,29 persen suara. Lawannya ini adalah bekas bankir yang dijuluki "Mr Clean".

Menurut komisi Pemilu setempat (ANE), jumlah pemberi suara lebih rendah dari pada yang diperkirakan, yakni 61 persen.

Kemenangan ini masih harus disahkan oleh mahkamah konstitusi.

Touadera (58) mencalonkan diri dari jalur independen dan dia sudah mengejutkan karena mendapat urutan kedua pada Pemilu babak pertama.

Bekas profesor matematika yang sangat dihormati itu pernah menjadi perdana menteri pada masa pemerintahan presiden Francois Bozize, yang beragama Kristen, yang digulingkan pada 2013.

Kudet oleh pemberontak muslim Seleka itu memicu kekerasan antara milisi muslim dan Kristen yang merenggut nyawa ribuan orang.

Rakyat berduyun-duyun ke TPS sambil perdamaian tercipta di negeri ini, Minggu pekan lalu, demikian AFP.




Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar