Belajar pada Silicon Valley menghargai UMKM

Belajar pada Silicon Valley menghargai UMKM

Presiden Joko Widodo Kunjungi Facebook Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan pendiri Facebook Mark Zuckerberg (kanan) saat berkunjung ke kantor pusat Facebook di Silicon Valley, San Fransisco, Amerika Serikat, Rabu (17/2) waktu setempat. (ANTARA FOTO/Setpres-Laily)

Jakarta (ANTARA News) - Orang-orang luar mungkin berpikir bahwa Silicon Valley mudah untuk direplikasi cukup dengan mengumpulkan dana ataupun engineering talent di satu tempat.

Namun, salah seorang komunitas Silicon Valley, James Hong, pada blognya di Medium.com, menegaskan komponen yang sulit untuk ditiru adalah ketersediaan akses kepada para alumni yang telah sukses dan kemauan para alumni untuk membantu para founder startup generasi selanjutnya.

Hong, co-Founder HOTorNOT, startup photo rating yang kemudian menjadi dating site,  mengatakan Silicon Valley mempunyai sebuah kultur saling membantu yang diserap hingga orang-orang yang berada di puncak.

Ia merasa hal tersebut adalah perbedaan utama yang membuatnya berhasil. Pada banyak industri, orang-orang yang berada di puncak cenderung meremehkan startup.

Sebaliknya di Silicon Valley, banyak orang-orang sukses yang tetap rendah hati dan merasa senang untuk membantu para startup jika mereka merasa startup tersebut menarik.

"Rahasia dari Silicon Valley adalah kami ingat untuk membalas budi," kata James Hong.

Dia menjalankan startup secara bootstrap selama delapan tahun hingga menjelma menjadi mesin uang yang akhirnya dibeli investor seharga 20 juta dolar AS.

"Kami tidak lupa bantuan yang kami dapat, dan kami melakukan usaha khusus untuk membayarnya kembali," kata Hong yang kini menjadi angel investor di Silicon Valley.

Sebagai contoh, Larry Page dari Google memberikan saran kepada Hong tempat membeli server (Rackable Systems). Jim Reese, head of engineering operations Google, memberikan Hong beberapa saran teknis  tentang scaling.

Beberapa eksekutif Yahoo bahkan dengan sengaja membiarkan perusahaan seumur jagung Hong untuk host gambar-gambar di server mereka selama bertahun-tahun.

"Kami awalnya mengira bahwa kami tidak ketahuan melakukannya, namun akhirnya kami mengetahui bahwa ternyata mereka memasukkan HOTorNOT ke dalam whitelist mereka. Ketika saya bertemu dengan mereka dan mengapa mereka melakukannya hal tersebut untuk kami, mereka mengatakan pada saya kami mencintai HOTorNOT dan tidak ingin menjadi orang yang membunuhnya," kata Hong.

Saling Mendukung
Silicon Valley faktanya dibangun dengan pondasi saling mendukung.

Komunitas Lembah Silicon tak akan ada tanpa adanya keberpihakan "yang besar" pada "yang kecil" sehingga tak pernah ada hukum rimba berlaku di wilayah yang masuk di bagian West Coast negara bagian California itu.

Jadi seberapa kuatkah Indonesia untuk mampu mereplikasi Silicon Valley?

Inilah faktanya; UMKM di Indonesia jumlahnya mencapai 99 persen dari pelaku usaha yang ada di Tanah Air. Sedangkan jumlah wirausaha di Indonesia, baru 1,67 persen dari total populasi penduduk.

Tercatat berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun lalu terdapat 55,2 juta usaha kecil-menengah. Seluruh usaha tersebut memberikan kontribusi pada PDB sebesar 57,9 persen dan kontribusi penyerapan tenaga kerja 97,2 persen.

Data ini menyajikan kenyataan bahwa UMKM di Indonesia masih menjadi sektor nonformal yang menjadi tumpuan masyarakat namun kontribusinya terhadap PDB masih belum seimbang atau sebesar usaha-usaha besar yang jumlahnya hanya segelintir namun menguasai "kue" perekonomian yang dominan.

Keberpihakan terhadap pemberdayaan UMKM di Tanah Air pun patut dipertanyakan padahal siapapun yang berkuasa selalu menjanjikan insentif dan kemudahan bagi sektor tersebut.

Pertanyaan berikutnya kemudian, apakah yang salah dari upaya pemberdayaan UMKM yang telah berjalan?

Maka etika berbisnis di Silicon Valley pun layak untuk dijadikan acuan ketika budaya saling mendukung dikembangkan, hukum rimba ditiadakan, sehingga yang besar menolong yang kecil, dan yang telah tumbuh tak perlu lupa untuk membalas budi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika berkunjung ke Amerika Serikat bahkan memanggil anak-anak muda Indonesia yang berada di luar negeri, khususnya Amerika Serikat dan ingin pulang untuk mengembangkan usaha di Tanah Air, agar tidak pernah ragu untuk pulang.

"Mau pulang, pulang aja," ucap Presiden ketika bertemu dengan Diaspora Indonesia di Auditorium Palace of Fine Arts, San Francisco, 16 Februari 2016.

Presiden menjelaskan bahwa pengalaman bekerja sebagai seorang profesional di negara maju seperti Amerika Serikat, tentunya akan menjadikan nilai tambah yang besar bagi negara.

"Saya ingin dalam waktu yang sangat cepat ini ada 1.000 technopreneurs dan developers," kata Presiden.

Sejumlah kemudahan pun ditawarkan dan segala hal kata Jokowi telah dilakukan untuk Indonesia lebih baik mulai dari membangun infrastruktur, deregulasi, hingga meningkatkan akses broadband.

Bahkan untuk memperluas akses pembiayaan, bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan diturunkan lagi dari 9 persen menjadi 7 persen per tahun.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) misalnya dalam 10 bulan terakhir ini juga telah menyiapkan roadmap e-commerce Indonesia.

"Potensi industri digital di Indonesia sebesar 130 miliar dolar AS pada tahun 2020. Roadmap sudah selesai dan akan dituangkan dalam pers dan pendanaannya dilakukan melalui KUR," ucap Menkominfo Rudiantara yang turut hadir dalam pertemuan itu.

Bahkan, lanjut Rudiantara, skema yang diberikan kepada anak-anak muda akan berbeda dari skema pembayaran KUR sehingga dikonversi menjadi venture capital dan peraturan OJK telah turut mendukung skema ini.

"Tentunya tidak mungkin kalau pengusaha baru dibebankan membayar bunga, karena mereka baru memulai usaha," ucap Rudiantara.

Presiden Jokowi juga telah meminta bantuan pada komunitas Silicon Valley untuk terlibat dalam inkubasi wirausaha baru di Indonesia.

Dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan CEO Google Sundar Pichai di Mountain View, California, Google mengumumkan rencana untuk membantu melatih 100.000 pengembang mobile hingga 2020.

Bekerja sama dengan mitra di seluruh Indonesia, Google akan mengadakan kursus pengembangan keterampilan melalui perguruan tinggi, secara online dan melalui kelompok belajar di seluruh nusantara.

Namun seluruh usaha yang telah dirintis dan dipersiapkan itu bisa jadi akan sia-sia jika tanpa diiringi pembangunan kultur saling mendukung serupa yang dikembangkan nun di Lembah Silikon. Dengarkan mereka punya cerita tentang kisah sukses bagaimana menghargai UMKM dan usaha pemula.

Oleh Hanni Sofia Soepardi
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar