Tugboat Charles diduga melintas di zona konflik

Tugboat Charles diduga melintas di zona konflik

Ilustrasi. Satu dari dua kapal tugboat yang baru dibeli PT PLN melakukan uji berlayar usai peresmian di galangan kapal PT Bahtera Bahari Shipyard, Sagulung, Batam, Kepulauan Riau, Senin (3/9/2012). Dua paket kapal tugboat beserta kapal tongkang yang baru dibeli PLN itu untuk menyuplai batu bara dari Tarakan menuju PLTU Rembang dan PLTU Indramayu dengan total volume angkutan sekitar 450 ribu ton/tahun. (FOTO ANTARA/Henky Mohari)

...penyandera akan memenggal para sandera tersebut."
Samarinda (ANTARA News) - Kapal tunda atau "tugboat" Charles diduga melintas di zona konflik sehingga tujuh krunya disandera kelompok bersejata Filipina Abu Sayyaf.

"Dugaan tersebut masih harus klarifikasi dari enam anak buah kapal (ABK) yang saat ini ada di kapal tunda tersebut," ujar Kepala KSOP Kelas II Samarinda Kolonel Laut Yus K Usmany, di Samarinda, Jumat.

Dugaan tersebut kata Yus K Usmany, saat ini masih didalami pihak TNI dan kepolisian.

"Indikasi seperti itu saat ini tengah didalami pihak TNI dan Polri di Balikpapan. Kami hanya menyampaikan kepada pihak KP3 bahwa informasi kru kapal tunda Charles yang berangkat 13 orang namun yang kembali hanya enam dan itu yang menjadi ranah kami sehingga kami pertanyakan," jelas Yus K Usmany.

KSOP Kelas II Samarinda lanjut Yus K Usmany, mengeluarkan izin berlayar pada kapal tunda yang menarik tongkang Robby 152 tanggal 3 Juni 2016.

Pada 22 Juni 2016, tujuh kru kapal tunda itu dilaporkan disandera di sekitar wilayah perairan Jolo, Filipina.

Beberapa kapten kapal yang mengaku kerap melintas di wilayah perairan Selatan Filipina mengatakan, kawasan itu memang dikenal rawan bagi pelayaran.

Jalur aman bagi pelayaran di kawasan itu kata salah seorang kapten kapal yang juga bekerja pada PT Rusianto Bersaudara yakni berlayar jauh menghindari daratan.

"Biasanya, kami menjauh dari daratan yakni sekitar 50 mil untuk menghindari perompak. Kawasan itu memang selama ini dikenal rawan. Kami menduga, kapal tunda Charles kemungkinan memotong jalur mendekati kawasan itu sehingga mudah dijangkau para penyandera," ujar salah seorang kapten kapal.

Informasi penyanderaan tersebut pertama kali disampaikan Dian Megawati Ahmad, istri salah satu kru tugboat Charles pada Rabu (22/6).

"Suami saya menghubungi menggunakan nomer telepon penyandera dan mengatakan dia tengah disandera kelompok Abu Sayyaf. Dia mengatakan disandera bersama enam kru tugboat lainnya dan saya diminta menghubungi pihak perusahaan dan kepolisian," ujar Dian Megawati.

Menurut ia, Ismail yang merupakan Mualim I dari kapal tunda tersebut disandera terpisah dengan tiga kru lainnya.

"Suami saya disandera bersama tiga kru, yakni Robin, Muhammad Nasir dan Sofyan. Sementara, Feri sebagai kapten kapal disandera terpisah dengan dua orang lainnya yang saya tidak tahu namanya. Kami sulit menghubungi, karena setiap kali menelpon selalu berganti-ganti nomer telepon," katanya.

Dian Megawati mengungkapkan penyandera meminta uang tebusan kepada pihak perusahaan pemilik kapal tunda itu sebesar 200 juta Ringgit Malaysia.

"Jika tidak, penyandera akan memenggal para sandera tersebut," katanya.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, dari 13 kru kapal tunda Charles, tujuh orang diduga disandera kelompok Abu Sayyaf yakni, Ferry Arifin (nahkoda), Ismail (Mualim I), Muhammad Mahbrur Dahri (KKM), Edi Suryono (Masinis II), Muhammad Nasir (Masinis III), Muhammad Sofyan (Oliman) serta Robin Piter (juru mudi).

Sementara, enam kru yang berhasil kembali bersama tugboat Charles yakni, Andi Wahyu (Mualim II), Syahril (Masinis IV), Albertus Temu Slamet (juru mudi), Reidgar Frederik Lahiwu (juru mudi), Rudi Kurniawan (juru mudi) dan Agung E Saputra (juru masak) .

Pewarta: Amirullah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Menlu RI minta Malaysia tingkatkan keamanan laut

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar