Filantropi berbasis keagamaan berkembang pesat di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Perkembangan gerakan filantropi kedermawanaan sosial berbasis keagamaan di Indonesia terus mengalami perkembangan, terutama di masa Reformasi, hal ini banyak mengundang perhatian peneliti isu-isu keagamaan, baik di dalam dan luar negeri.

Hal ini terungkap dari paparan Dr Hilman Latief, Kepala Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LPPM UMY) di University of Oxford, di kota Oxford, Inggris, demikian Ketua PCIM UK, Zain Maulana kepada Antara, Minggu.

Pada paparannya dalam acara Muhammadiyah International Forum ke-4 yang diadakan PCI Muhammadiyah UK, Dr Hilman menyebut Indonesia punya pengalaman menarik soal berkembangnya gerakan filantropi keagamaan. Lebih dari 10 tahun terakhir, banyak gerakan filantropi keagamaan di Indonesia, baik yang latar belakangnya sosial maupun yang terhubung secara transnasional, ujar Hilman.

Sebagai contoh, ia menyebutkan, ada beberapa lembaga yang berkiprah di ranah zakat, infaq, dan sadaqah baik dari Muhammadiyah, NU, Dompet Dhuafa, maupun lembaga-lembaga lokal di Indonesia. "Hal ini tentu positif karena mereka juga sedikit banyak berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan," ujarnya.

Hal ini juga diikuti berkembangnya wacana dan aksi kemanusiaan dalam berbagai momentum. Sebagai contoh, setelah gempa dan tsunami di Aceh, ramai organisasi keagamaan yang mengirim relawan dan menghimpun dana untuk membantu korban bencana, ujar Alumnus Utrecht University, Belanda. Kemudian berkembang sampai sekarang, seperti kiprah Muhammadiyah yang mengirim relawan untuk membantu korban bencana di Nepal, melalui Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC).

Menurut Hilman, perkembangan ini menunjukkan hal yang positif karena menunjukkan bahwa Islam juga punya kontribusi sosial dan kemanusiaan, dan tidak hanya terbatas di wilayah ritual.

Sejak tahun 1990 an, ada perkembangan menarik dalam wacana intelektual Islam di Indonesia, dari awalnya hanya berkutat di wilayah fiqh atau ibadah, kini menyentuh ranah sosial dan kebudayaan. Transformasi ini memberi ruang untuk lahirnya gerakan-gerakan filantropi dan kemanusiaan tersebut, ujar Hilman yang diundang berdakwah di selama Ramadhan.

Namun demikian, menurut Hilman, perkembangan tersebut juga perlu diikuti dengan daya kritis di wilayah-wilayah struktural, seperti kemiskinan atau problem agraria."Walaupun filantropi penting, namun ada banyak masalah sosial yang tidak cukup hanya diselesaikan melalui gerakan sosial, tetapi juga perlu peran negara. Ini sebabnya gerakan filantropi keagamaan juga perlu menyentuh wilayah advokasi kebijakan publik," ujar Hilman.

Diskusi yang diselenggarakan di Oxford Centre for Islamic Studies, University of Oxford ini berlangsung hangat dihadiri beberapa peneliti di Oxford Centre of Islamic Studies dan warga Indonesia di sekitar Oxford dan Reading.

Acara ini merupakan gelaran Muhammadiyah International Forum ke-empat yang diinisiasi PCI Muhammadiyah UK pada tahun 2016. Acara sebelumnya digelar di Birmingham, London dan Leeds. Seri forum ini telah menghadirkan beberapa akademisi dan tokoh masyarakat di UK, seperti Rianne Tenveen (IFEES), Professor Jonathan Benthall (Royal Anthropological Institute) dan Dr Adam Tyson (University of Leeds).

"Kami berharap acara semacam ini mampu menjadi wadah komunikasi masyarakat Indonesia dan Inggris, sebagai perwujudan dakwah keilmuan yang dibawa PCI Muhammadiyah UK," ujar Ahmad Rizky M. Umar, Wakil Ketua PCI Muhammadiyah UK di sela-sela forum.

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Jelang Imlek, belum ada lonjakan penumpang Garuda Indonesia

Komentar