Juba/New York (ANTARA News) - Pemimpin oposisi Sudan Selatan Riek Machar berada di negara tetangga, Republik Demokratik Kongo, kata PBB, Kamis, beberapa pekan setelah ia mundur dari ibu kota negaranya Juba saat pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah.

Badan dunia tersebut mengatakan pasukan perdamaian PBB di DR Kongo mengetahui keberadaan Machar di negara itu pada Senin dan menghubungi pemerintah Kongo, yang kemudian meminta pasukan itu menjemput Machar.

Gerakan tersebut dilakukan pada Rabu, kata juru bicara PBB Farhan Haq kepada wartawan di New York.

"Riek Machar diserahkan ke pejabat di Republik Demokratik Kongo. Kami tidak dalam kedudukan untuk memastikan tempatnya," kata Haq.

Juru bicara pemerintah Kongo, Lambert Mende membantah telah berhubungan dengan pihak manapun dalam membantu mantan wakil presiden Sudan Selatan, namun Haq mengatakan Machar dipindahkan dari sebuah kawasan dekat perbatasan dengan Sudan Selatan.

"Kami bisa memastikan bahwa sebuah operasi dilaksanakan oleh MONUSCO (misi PBB) atas alasan kemanusiaan untuk memfasilitasi keluarnya Riek Machar, istrinya dan 10 orang lainnya dari sebuah lokasi di DRC dengan dukungan otoritas DRC," kata Haq, dan menambahkan bahwa MONUSCO dinilai sebagai pihak paling tepat untuk memindahkan Machar dengan aman.

Pernyataan pemimpin SPLA Oposisi (SPLA-IO) menyebutkan ia telah pergi ke "sebuah negara di dalam kawasan" pada Rabu.

Machar memimpin pemberontakan selama dua tahun melawan pasukan yang setia pada musuh lamanya, Presiden Salva Kiir, sebelum kedua belah pihak mencapai kesepakatan damai pada Agustus 2015.

Berdasarkan atas kesepakatan itu, Machar kembali ke Juba pada April untuk kembali menduduki jabatan wakil presiden.

Namun, pertempuran kembali pecah pada Juli, sehingga Machar mundur bersama pasukannya dari Juba sekitar pertengahan Juli.

Juru bicara oposisi James Gatdek Dak dalam akun Facebooknya mengatakan para petempur oposisi telah "berhasil merelokasi pemimpin kami ke negara tetangga di mana ia akan memiliki akses tak terhalangi ke seluruh dunia dan media".

Machar mengalami luka di kaki akibat berminggu-minggu berjalan di semak belukar namun tidak cukup serius hingga membutuhkan perhatian medis, kata Gatdek Dak.

Sejak pertempuran pada Juli, Kiir telah memecat Machar dari jabatannya dan menunjuk Taban Deng Gai, mantan negosiator oposisi yang berselisih dengan Machar, sebagai wakil presiden.

PBB mengatakan kepada Kiir agar setiap perubahan politik harus konsisten dengan perjanjian damai, yang menyatakan bahwa wakil presiden harus dipilih oleh Oposisi Bersenjata Sudan Selatan.

(Uu.S022)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2016