counter

Sebagian warga Mosul kembali nikmati kehidupan normal awal Ramadhan

Sebagian warga Mosul kembali nikmati kehidupan normal awal Ramadhan

Pengungsi Irak yang melarikan diri dari pertempuran antara pasukan Irak dan militan ISIS di barat Mosul, Irak, Selasa (16/5/2017). (REUTERS/Danish Siddiqui)

Mosul, Irak (ANTARA News) - Tradisi bersuka cita menyambut Ramadhan dengan berbelanja berbagai keperluan untuk berbuka puasa dan sahur memang masih menjadi barang mewah bagi warga Mosul, yang kotanya menjadi ajang pertempuran antara pasukan Irak dan kelompok ISIS. 

Meski demikian warga yang tahun-tahun sebelumnya hidup di bawah kekuasaan ISIS merasa menikmati masa ketika kehidupan kembali normal awal Ramadhan ini.

"Ramadhan tahun ini tak bisa dibandingkan dengan Ramadhan sebelumnya. Dulu kami hidup di dalam penjara. Semuanya dilarang; saya tak bisa pergi ke pasar sendiri dan saya harus memakai hijab," kata Um Karam, yang berusia 40-an tahun, berjalan tanpa hijab di satu pasar terkenal di salah satu permukiman yang baru saja dibebaskan dari petempur ISIS.

Bulan Suci Ramadhan tahun ini memiliki rasa dan aroma istimewa buat rakyat Irak, yang sebelumnya biasa melewati malam-malam panjangnya dengan kesenangan dan kegiatan tradisional.

"Saya mencintai Ramadhan, sebab itu membuat saya merasa terhubung dengan diri saya, dengan keluarga saya dan dengan bangsa saya. Saya gembira kehidupan saya kembali seperti sebelum Daesh (ISIS), dan saya akan lebih gembira lagi jika pasukan keamanan membebaskan semua daerah yang tersisa di Mosul serta seluruh Irak dari kekuasaan kelompok teroris," kata Um Karam kepada Xinhua sambil belanja makanan dan jus untuk Iftar keluarganya.

Secara tradisional, kehidupan selama Ramadhan dulu seperti perayaan, ketika semua anggota keluarga dan kadangkala teman berkumpul untuk berbuka puasa, yang biasanya menjadi malam penuh makanan untuk mengakhiri puasa, dengan bermacam makanan.

Dalam tradisi Ramadhan, anggota keluarga kadangkala juga pergi ke tempat ramai di permukiman mereka, dan sebagian pemuda berkumpul di kedai es krim atau di kedai kopi untuk memainkan permainan yang hanya dilakukan selama Ramadhan.

Di Mosul, tradisi dan ketenangan Ramadhan dilucuti dari warga dan mereka dipaksa mengikuti peraturan keras ISIS ketika kelompok itu mengambil kendali daerah mereka.

Sekarang di daerah-daerah yang sudah dibebaskan, warga telah mulai menikmati kembali malam-malam lama mereka saat Ramadhan, yang berisi kegembiran. Meski tidak sepenuhnya seperti yang mereka inginkan, namun ini barulah awal.

"Suasana hati pelanggan berubah menjadi lebih baik Ramadhan ini, karena orang-orang merasa lebih aman dan keluarga mereka lebih aman setelah kita mengusir Daesh," kata Thanoon Younis, pemilik toko serba ada di pasar ramai di Mosul.

Namun Younis mengeluhkan lambannya gerakan belanja karena banyak keluarga di Mosul masih tinggal di kamp di luar kota karena kurangnya ketersediaan layanan dasar seperti air minum. Orang-orang masih mengandalkan sumur untuk mendapat air minum.

"Kehidupan secara bertaham kembali, khususnya di tepi kiri Mosul (sisi timur Mosul), karena lebih aman setelah kemenangan pasukan keamanan atas teroris," kata Younis.

Sebelumnya kebanyakan permainan dan acara tradisional Ramadhan dibatalkan oleh militan ISIS, yang berkelana di jalan-jalan dan gang-gang untuk mencari siapa saja yang melanggar aturan dan perintah mereka.

"Yang baru tahun ini adalah kembalinya permainan dan tradisi-tradisi Ramadhan, seperti satu yang saya suka: Mehiebes. Kami memainkannya lagi," katanya dengan wajah sumringah.

Mehiebes, atau cincin tersembunyi, adalah permainan komunal warga Irak yang dimainkan oleh pria-pira berbeda usia yang dibagi menjadi dua tim. Pemenangnya akan mendapat sepiring besar manisan populer Irak, Zalabiyah dan Baqlawa, yang kemudian biasanya dibagikan seluruh pemain dan penonton.

Younis juga menyampaikan keprihatinannya tentang tragedi dan derita orang-orang yang hidup di daerah-daerah yang masih dikendalikan ISIS di sisi barat Mosul.

"Kami berdoa untuk orang-orang tak berdosa di dalam dan dekat pusat kota tua. Saya selalu memikirkan penderitaan hidup mereka, kelaparan dan kehausan mereka dan pembunuhan yang sehari-hari terjadi," katanya.

Menurut Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), jumlah warga sipil yang masih berada di kota tua dan lingkungan sekitarnya tidak bisa diketahui pasti, namun memperkirakan sekitar 200.000 mungkin meninggalkan rumah meraka menjelang pertempuran hari-hari mendatang.

"Kami tidak tahu pasti berapa banyak warga sipil yang masih berada di distrik-distrik yang dikuasai ISIS, namun ada sekitar 200.000 orang lagi yang akan meninggalkan rumahnya dalam beberapa hari ini.

Pasukan Irak yang didukung koalisi internasional telah bertempur untuk mengusir ISIS dari bagian barat Mosul, namun beberapa permukiman, termasuk daerah kota tua yang padat, masih di bawah kendali kelompok ekstremis itu.

Menurut militer Irak, lebih dari 90 persen kota sudah direbut kembali dari ISIS dalam serangan besar yang diluncurkan Oktober tahun lalu.

Mosul, 400 kilometer utara Baghdad, ibu kota Irak, berada di bawah kendali ISIS sejak Juni 2014, ketika pasukan pemerintah meninggalkan senjata mereka dan lari, memungkinkan militan ISIS mengambil alih kendali bagian barat dan utara Irak, demikian menurut warta kantor berita Xinhua.(Uu.C003)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar