Houston (ANTARA News) - Koloni semut api yang hanyut menimbulkan ancaman lain buat warga Housotn, yang masih dirundung bencana banjir yang ditinggalkan oleh Badai Harvey.

Semut beracun itu memiliki tubuh berlapis lilin yang tahan air, dan mereka berkelompok sehingga membentuk kumpulan yang bisa berisi 100.000 semut saat mereka mencari tempat kering untuk menyelamatkan diri dari banjir dan membangun kembali tempat tinggal mereka.

Para ahli serangga mengatakan prilaku semut api semacam itu benar-benar normal, tapi kontak yang diinginkan dengan hewan kecil tersebut mungkin menimbulkan reaksi alergi yang bisa mengancam nyawa tergantung atas kuatnya gigitan mereka.

Kebanyakan orang cuma merasa sangat panas seperti terbakar dan mendapat tanda merah di kulit, tapi reaksi alergi dapat memicu reaksi anafilaktik, yang bisa meliputi bekas dan gangguan nafas, demikian peringatan para ahli serangga.

Banyak ahli sangat menyarankan orang agar tidak mengganggu atau berbuat ulah dengan semut api itu, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu malam.

Segera setelah beberapa semut api menggigit, mereka akan mengeluarkan sejenis bahan yang disebut "pheromone" untuk memberitahu semut lain mengikuti perbuatan mereka, kata para ahli --yang menyatakan cara terbaik yang bisa dilakukan ialah membuang semut tersebut sesegera mungkin.

"Mereka bukan datang untuk menyerang kalian. Mereka cuma secara pasif mengambang di air. Ini cuma masalah bersikap cerdas dan menghindar," kata Larry Gilbert, seorang profesor bidang biologi terpadu di University of Texas di Austin, kepada jejaring berita teknologi The Verge.

Jika tidak mungkin untuk menghindari jalur semut api, ahli serangga Molly Keck menyarankan orang membuat gelombang untuk menjauhkan hewan tersebut.

Banyak ahli menyatakan warna semua api yang menyerupai karat memudahkan orang untuk melihat dan melakukan pencegahan.

Tak ada laporan mengenai korban banjir yang menderita serangan semut api hingga Selasa tengah hari, kata NBC News.

(Uu.C003)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017