counter

Film-"It" kisah persahabatan melawan teror badut

Film-"It" kisah persahabatan melawan teror badut

Film "It", tokoh antagonis utama adalah seorang badut. Film berdurasi 135 menit itu menuturkan tentang sebuah kota kecil di Amerika Serikat yang bernama Derry, yang menderita fenomena banyak warganya yang menghilang secara misterius, terutama anak-anak.

Begitu pula halnya Bill (Jaeden Lieberher), remaja 13 tahun yang kehilangan sang adik, Georgie (Jackson Robert Scott), setelah sang adik main kapal-kapalan di sela-sela got saat hujan deras melanda Derry.

Pada bagian awal dari film diketahui bahwa Georgie menghilang setelah berbincang-bincang dengan seseorang berwujud badut bernama Pennywise (diperankan dengan angker secara brilian oleh Bill Skarsgard).

Beberapa bulan setelah Georgie menghilang, sejumlah anak lainnya juga ikut lenyap dari muka bumi.

Bill, bersama-sama dengan sejumlah teman-temannya, membentuk kelompok yang disebut sebagai "The Losers" (Pecundang).

Mereka, dengan semangat jiwa mudanya untuk berpetualang, memutuskan untuk mencari tahu apa yang mengakibatkan banyak anak yang hilang dari Derry.

Anggota "The Losers" terdiri antara lain dari Richie (Finn Wolfhard), yang suka membanyol dan kerap mengeluarkan komentar yang tidak patut untuk anak seusianya.

Kemudian, ada pula Eddie (Jack Dylan Grazer) yang memiliki ibu yang sangat protektif, dan Stanley (Wyatt Oleff) dari keluarga yang sangat religius.

Sejumlah anak lainnya juga turut bergabung dengan "The Losers", seperti Mike (Chosen Jacobs) yang bekerja di tempat jagal domba, lalu Ben (Jeremy Ray Taylor), sang kutu buku, dan satu-satunya perempuan, Beverly (Sophia Lillis).

Dalam perjalanan film tersebut dipaparkan berbagai teror yang ternyata dihadapi satu persatu dari anggota "The Losers", seperti Stanley yang dikejar hantu perempuan yang keluar dari lukisan di sinagog.

Selanjutnya, Mike yang mesti mengalami pengalaman pahit dengan mengalami halusinasi tentang orang tuanya yang terbakar di dalam kamar, dan Ben yang dikejar-kejar mahkluk jadi-jadian di ruang bawah tanah perpustakaan umum.

Selain itu, Beverly terciprat oleh darah di kamar mandi keluarganya, dan Eddie yang dikejar-kejar gelandangan berbentuk "zombie" di depan rumah tua berhantu.

Satu benang merah dari berbagai kengerian yang dihadapi anak-anak tersebut adalah adanya sosok badut dengan rambut merah menyala yang menyertai teror tersebut.

Tidak hanya monster badut yang harus dihadapi oleh "The Losers", tetapi mereka juga harus dirundung oleh gang remaja berandalan yang dipimpin oleh Henry Bowers (Nicholas Hamilton).

Bahkan, Ben yang bertubuh tambun sempat dikeroyok dan perutnya disilet hingga membentuk huruf H oleh Henry, sebelum akhirnya Ben berhasil melarikan diri dari para begundal itu.

Begitu pula dengan sejumlah orangtua dari anak-anak tersebut ternyata juga memiliki masalah, seperti Beverly yang memiliki ayah yang memiliki pengarai suka menganiaya.

Berhasilkah persahabatan yang merekat ketujuh anak-anak berusia 13 tahun itu dalam memecahkan misteri badut berambut merah yang meneror kota Derry?

Unsur persahabatan

Salah satu hal yang layak diambil hikmahnya dari film bergenre horror tersebut adalah mengenai persahabatan yang tulus yang tercipta dari kelompok "The Losers".

Tidak seperti kelompok anak-anak dalam sejumlah film Hollywood yang ditampilkan seakan-akan memiliki skenario jauh di atas umur mereka, dalam film "It", akting sang aktor anak-anak tersebut tampak natural dan pas.

Selain itu, kejenakaan dari tutur kata mereka juga menunjukkan skenario yang cerdas dari para penulis skenario, yang terdiri atas tiga orang yaitu Chase Palmer, Cary Fukunaga, dan Gary Dauberman.

Sedangkan sang sinematografer, Chung-hoon Chung, juga berhasil menampilkan gambar-gambar visual yang tepat, baik saat menunjukkan kengerian bagi para penonton, maupun dalam menampilkan warna-warna yang tajam tetapi tidak berlebihan.

Seperti film horor lainnya, "It" juga menampilkan sederetan "jump scares" (adegan mengejutkan), namun berbagai adegan itu dieksekusi dengan baik sehingga tidak berkesan "murahan" dan juga tidak bernuansa vulgar seperti film horor lainnya yang hanya bisa berkutat soal darah dan kesadisan.

Film "It" itu sendiri sebenarnya merupakan "remake" (gubahan ulang) dari miniseri berjudul sama yang ditampilkan pada tahun 1990 (di Indonesia pernah pula ditayangkan di TVRI).

Meski secara garis besar alur cerita dan penokohannya memiliki banyak kesamaan, tetapi ada sejumlah perbedaan antara film tahun 2017 dan miniseri tahun 1990, antara lain latar belakang, yaitu akhir 1950-an pada miniseri, dan akhir 1980-an pada film.

Latar belakang tahun 1980-an juga ditampilkan dengan apik dalam film 2017 ini, seperti sosok Ben yang menggemari grup musik New Kids on The Block.

Sementara teknologi efek visual yang telah maju pada saat ini (setidaknya dibanding tahun 1990), juga menjadi keunggulan dari versi film tahun 2017 ini.

Secara keseluruhan, film yang disutradarai sineas asal Argentina, Andy Muschietti, berhasil membuat film gubahan ulang yang tidak kalah jauh menarik dengan pendahulunya.

Para penggemar "It", yang juga sedang menunggu sekuel kelanjutannya, juga berharap kualitas film dapat dipertahankan dan tidak terjatuh ke dalam perangkap yang kerap terjadi di mana film sekuel kerap memiliki mutu yang jauh di bawah film pertamanya.

Pewarta: Muhammad Razi Rahman
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar