Cerita dari Raqa, riwayat ISIS di Suriah di ambang tamat

Cerita dari Raqa, riwayat ISIS di Suriah di ambang tamat

Seorang pejuang dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berdiri diantara reruntuhan gedung yang hancur di Raqqa, Suriah, Senin (25/9/2017). (REUTERS/Rodi Said)

Jakarta (ANTARA News) - Para pejuang dukungan Amerika Serikat sedang bertempur menghadapi ratusan eksponen terakhir ISIS yang masih bertahan di sebuah kantong terakhir mereka di Raqa. Ibu kota ISIS itu kini di ambang jatuh sepenuhnya ke tangan pejuang koalisi Arab-Kurdi.

Terdengar tembakan artileri untuk kemudian terlihat asap tebal membumbung di atas kota yang sudah hancur binasa itu ketika serangan udara koalisi pimpinan AS membom posisi-posisi ISIS.

"Pasukan Demokratik Suriah (SDF) saat ini menghadapi pertempuran yang paling sengit," kata Jihan Sheikh Ahmed, juru bicara operasi pendudukan Raqa kepada AFP.

"Pertempuran terakhir akan membuat tamat riwayat Daesh." kata dia. Daesh adalah akronim dalam Bahasa Arab untuk ISIS. "Pilihan mereka, menyerah atau mati."

Hanya sekitar 300 petempur ISIS yang masih bertahan di kantong terakhirnya di Raqa. "Elemen-elemen ISIS yang bertahan di sana masih memberikan perlawanan," kata Sheikh Ahmed seraya mengatakan pertempuran berpusat di daerah penuh ranjau dan berkubu-kubu.

SDF menembus masuk Raqa Juni lalu dan telah menguasai 90 persen wilayah Raqa sebelum para pejabat setempat menawarkan negosiasi untuk mengungsikan warga sipil Raqa yang masih bertahan.

Senin tengah malam lalu, SDF menyatakan telah sepenuhnya menguasai bundaran kota yang digunakan ISIS sebagai tempat pemenggalan dan penyaliban manusia.

Selama tiga ISIS menguasai Raqa, kawasan yang disebut Bundaran Al-Naim itu disebut warga Raqa dengan "Bundaran Neraka".

Menjelang matahari tenggelam di sebelah barat, para pejuang SDF menarikan dabkeh --tarian tradisional Arab-- guna merayakan direbutnya lagi kota mereka, Raqa.

"Insya Allah, Raqa sudah selesai dan kami sekarang menuju Deir Ezzor," kata Abu Mizar al-Raqqawi, pejuang Arab dari koalisi SDF.  "Begitu seluruh Suriah dibersihkan dari Daesh, saya bisa pulang ke kampung halaman saya."

Semalam SDF menduduki bagian kota Raqa di Al-Barid, dan Senin telah menduduki dua distrik terdekat.

"Setelah evakuasi warga sipil, operasi menjadi lebih mudah. Daesh membawa warga sipil dan menempatkan mereka di depan front sehingga pesawat tempur tak berani membom mereka," kata pejuang SDF berusia 22 tahun, Shoresh Halab.

Minggu pekan lalu SDF mengumumkan fase terakhir pertempuran merebut kembali Raqa. Sebelum itu, pertempuran sempat terhenti demi memberi kesempatan warga sipil keluar dari daerah pertempuran, selain memberi peluang kepada sebagian petempur ISIS untuk menyerahkan diri.

SDF menyatakan fase terakhir pertempuran akan "mengakhiri keberadaan teroris-teroris bayaran asing di dalam kota itu".  "Pertempuran akan terus berlanjut sampai seluruh kota dibersihkan dari teroris-teroris yang menolak menyerah, termasuk teroris-teroris asing."

Juru bicara SDF Talal Sello berkata kepada AFP bahwa Raqa sebenarnya sudah setengah kosong oleh penduduk sipil setelah 3.000 penduduk yang masih bertahan, meninggalkan kota itu Sabtu pekan lalu, sebagai bagian dari kesepakatan antara pejabat-pejabat lokal dengan para petempur ISIS.

"Hanya 250 sampai 300 teroris asing yang menolak kesepakatan itu dan memutuskan bertahan untuk bertempur sampai titik darah penghabisan di kota itu. Keluarga-keluarga mereka ikut bersama mereka," kata dia.

Di bawah kesepakatan itu, 275 petempur ISIS asal Suriah dan keluarganya memutuskan menyerahkan diri kepada SDF.

Sehari setelah kesepakatan itu, juru bicara koalisi pimpinan AS Kolonel Ryan Dillon berkata kepada AFP, "Sekarang kesepakatan itu telah rampung dan SDF akan melanjutkan ofensifnya ke dalam kota itu. Saya pastikan serangan akan ditingkatkan."


Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Moeldoko: Status kewarganegaraan WNI eks ISIS perlu diverifikasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar