Mendagri: radikalisme perlu dideteksi mulai dari RT/RW

Mendagri: radikalisme perlu dideteksi mulai dari RT/RW

Dokumentasi Seminar Nasional Mengawal Pancasila. Mendagri Tjahjo Kumolo menyampaikan paparannya pada seminar nasional "Upaya Negara dalam Mengawal Pancasila sebagai Ideologi di dalam Negara Hukum", di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (4/11/2017). Dalam paparannya Tjahyo Kumolo menyatakan saat ini tengah terjadi menurunnya toleransi antara suku, ras, agama, dan antar golongan yang tidak mencerminkan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. (ANTARA/R. Rekotomo) ()

Kita harus berani menentukan siapa kawan dan siapa lawan, dan mempunyai sikap melawan apa pun yang mau mengacaukan kesatuan dan kebhinekaan atau mengubah ideologi bangsa di luar Pancasila."
Yogyakarta (ANTARA News) - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan persebaran gerakan radikalisme dan terorisme perlu dideteksi oleh semua pihak di berbagai daerah mulai dari tingkat rukun tetangga dan rukun warga.

"Dari model penanganan radikalisme dan terorisme zaman dahulu, satu saja yang saya adopsi untuk saat ini yakni pemolisian tingkat RT dan RW," kata Menteri Tjahjo saat berbicara dalam Seminar "Pancasila dan Kebhinekeaan" di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin.

Menurut Tjahjo, yang dimaksud dengan "pemolisian" di tingkat RT/RW yakni keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keamanan di lingkungan masing-masing dengan secara intensif melaporkan setiap adanya gelagat atau tindakan yang mengarah pada radikalisme dan terorisme.

"Jadi kalau ada apa-apa wajib lapor. Siapa yang bermalam di situ wajib melapor kepada ketua RT/RW," kata dia.

Selain oleh ketua RT/RW, menurut Tjahjo, pengawasan itu akan didukung tokoh masyarakat, tokoh agama setempat, dilanjutkan Kapolsek, Babinsa, hingga Kepala Kecamatan. Seluruh jajaran itu, menurut Tjahjo, harus mampu membaca peta situasi atau tingkat kerawanan yang ada di wilayah masing-masing.

"Kalau dahulu hingga peristiwa gelas pecah di satu RT saja kurang dari tiga jam sudah selesai, pecah karena apa, penyebabnya apa, bisa diketahui," kata dia.

Menurut Tjahjo, gerakan radikalisme dan terorisme memang perlu terus diwaspadai karena merupakan ancaman utama bagi Pancasila dan Kebhinekaan di Indonesia.

Pancasila, kata dia, saat ini menghadapi berbagai tantangan di tengah era globalisasi dan derasnya arus informasi. Kondisi saat ini menunjukkan menurunnya toleransi antarsuku, antarras, antaragama dan golongan serta perilaku yang tidak mencerminkan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Oleh karena itu, ia menyerukan agar seluruh elemen masyarakat dapat turut terlibat dalam menguatkan ideologi Pancasila dan mengaktualisasikannya di masyarakat untuk melawan nilai-nilai yang mengancam keutuhan NKRI.

"Kita harus berani menentukan siapa kawan dan siapa lawan, dan mempunyai sikap melawan apa pun yang mau mengacaukan kesatuan dan kebhinekaan atau mengubah ideologi bangsa di luar Pancasila," Tjahjo.

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Soal cadar, Menpan-RB sebut setiap instansi punya aturan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar