Harimau Sumatera berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem

Harimau Sumatera berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem

Petugas BBKSDA Riau melakukan perawatan terhadap seekor anak harimau Sumatra yang diperkirakan berusia 5 hingga 6 bulan di klinik perawatan BBKSDA Riau di Pekanbaru, Riau, Jumat (26/5/2017). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Jambi (ANTARA News) - Staf Komunikasi dan Pelaporan Tiger Project pada Manajemen Unit Sumatera Tiger UNDP Hizbullah Arief mengatakan, Harimau Sumatera (panthrea tigris sumatrae) berfungsi menjaga kesimbangan eksosistem sehingga habitatnya harus dijaga dari berbagai ancaman.

"Fungsi Harimau Sumatera sebagai top predator itu mengontrol populasi satwa mangsa di bawahnya, kalau harimau hilang maka satwa mangsa seperti rusa, babi hutan akan berkembang biak tanpa kontrol," kata Arief dalam paparannya pada Advokasi Konservasi Harimau Sumatera di Jambi, Kamis.

Menurut dia, jika keberadaan Harimau Sumatera sudah semakin jarang maka satwa mangsa di bawahnya akan berkembang biak, sehingga satwa mangsa seperti babi hutan dan rusa akan masuk ke ladang penduduk dan menjadi hama.

"Babi hutan berkembang biak yang menjadi hama itu terjadi di Jambi, dan masyarakat sudah tahu. Jadi sebenarnya tinggal pemahaman masyarakat itu sendiri untuk turut menjaga habitat Harimau Sumatera," katanya menjelaskan.

Selain itu kata dia, mindset masyarakat yang selama ini menganggap bahwa Harimau Sumatera itu sebagai ancaman harus diubah. Masyarakat harus diberikan pemahaman pentingnya menjaga kelestarian harimau sebagai top predator itu.

"Masyarakat menganggap harimau itu menjadi ancaman, dan mindset seperti yang harus kita ubah melalui pemahaman, bahwa keberadaan harimau di hutan mempunyai manfaat menjaga kelesetarian ekosistem," ujar Arief.

Sehingga melalui kegiatan Advokasi Konservasi Harimau Sumatera yang melibatkan sejumlah instansi tersebut, dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keberadaan Harimau Sumatera sebagai predator puncak rantai makanan dalam menjaga keseimbangan ekologi hutan dan mengontrol populasi spesies di bawahnya.?

Jika masyarakat telah mengetahui pemahaman itu, maka kata Arief masyarakat juga nantinya dengan sendirinya bisa menjadi pihak yang dapat membantu dalam pengawasan keberlangsungan habitat satwa yang terancam punah itu.

"Jika masyarakat sudah mendapatkan pengetahuan tentang itu, maka masyarakat akan bekerja sama dengan pihak penegak hukum untuk melakukan pengawasan," katanya lagi.

Sementara itu, berdasarkan data analisis populasi terbaru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2017, populasi Harimau Sumatera di alam liar saat ini kurang 700 ekor.

Arief menjelaskan, populasi Harimau Sumatera tersebut terus terancam oleh berbagai macam faktor, antara lain deforestasi, alih guna lahan, perburuan liar dan konflik dengan manusia.

Tercatat ada 1.065 kasus konflik antara manusia dan harimau di pulau Sumatera dari tahun 2001 hingga 2016, katanya menambahkan.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar