Dinkes Sumbar mencatat seorang warga meninggal karena difteri

Dinkes Sumbar mencatat seorang warga meninggal karena difteri

Petugas melakukan pemeriksaan pasien suspect penyakit Difteri yang baru masuk, di Ruang Isolasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (7/12/2017). Provinsi Banten merupakan salah satu Provinsi yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Difteri yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, yakni penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Padang (ANTARA News) - Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat (Sumbar), Merry Yuliesday menyebutkan pihaknya mencatat dua orang warga provinsi itu positif terinfeksi bakteri Corynebacterium Diptheriae penyebab difteri pada periode Januari hingga November 2017, satu diantaranya meninggal dunia.

"Korban yang meninggal warga Pasaman Barat. Sementara seorang lagi yang positif difteri dari Solok Selatan, sekarang sudah sehat setelah mendapatkan perawatan," kata dia dihubungi dari Padang, Jumat.

Berdasarkan laporan dari dinas kesehatan kabupaten dan kota, menurut dia, terindikasi ada 23 kasus yang terjadi di Sumbar pada 2017. Indikasi itu tersebar pada 10 kabupaten dan kota seperti Kota Padang, Pesisir Selatan, Padang Pariaman.

Lalu, Kota Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Bukittinggi, Lima Puluh Kota, Solok Selatan, dan Kabupaten Agam.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dari 23 korban yang terindikasi hanya dua kasus positif yaitu di Kabupaten Solok Selatan dan Pasaman Barat.

Merry menyebutkan korban yang meninggal dunia di Pasaman Barat pada September 2017 berdasarkan informasi, tidak pernah melakukan imunisasi, ditambah lagi korban mengidap gangguan pertumbuhan.

Sementara itu berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi terhadap 23 orang yang terindikasi, kembali ditemukan fakta bahwa mereka tidak lengkap melaksanakan imunisasi.

Menurutnya untuk mencegah jangan terjadi lagi kasus difteri, dinas kesehatan telah melakukan berbagai upaya, yaitu program imunisasi yang terdiri dari peningkatan cakupan imunisasi baik dasar maupun lanjutan.

Selanjutnya melakukan mapping daerah yang sudah dua-tiga tahun berturut-turut tidak Universal Child Immunization (UCI) atau tidak semua anak diimunisasi untuk segera lakukan "Back Lock Fighting (BLF)" atau "crash" program.

Selain itu juga dilakukan sosialisasi untuk mengajak masyarakat agar memberikan imunisasi kepada anaknya karena difteri merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

"Difteri ini tidak bisa diobati dengan obat herbal, karena difteri ini merupakan kuman, sehingga pengobatan yang dibutuhkan ialah antibiotik," katanya.

Difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium Diptheriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

RSUP Haji Adam Malik kembali merawat penderita difteri

Komentar