Tak adil, orang terkaya nikmati 85 persen total kekayaan dunia

Tak adil, orang terkaya nikmati 85 persen total kekayaan dunia

Bill Gates, salah satu orang paling di dunia (REUTERS/Joshua Roberts/File Ph)

Jakarta (ANTARA News) - Satu persen penduduk dunia yang merupakan orang-orang paling kaya di dunia menguasai 82 persen dari total kekayaan yang dihasilkan dunia tahun lalu, sedangkan kaum miskin yang separuh dari total penduduk dunia tak kebagian apa pun,  kata Oxfam seperti dikutip AFP.

Rilis kabar ini disampaikan menjelang pertemuan para elite dunia dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Laporan terbaru dari yayasan LSM ini juga mendapati fakta bahwa kekayaan para miliarder dunia telah berlipat enam kali lipat lebih cepat dibandingkan kekayaan yang diperoleh kaum pekerja biasa sejak 2010.

Menurut Oxfam pula, setiap dua hari tercipta miliarder baru, pada periode Maret 2016 - Maret 2017.

Oxfam menggunakan temuannya ini untuk menggambarkan keadaan perekonomian global di mana kaum kaya dengan amat sangat cepat mencetak untung, ketika saat bersamaan ratusan juta orang berjuang hidup di garis kemiskinan.

Baca juga: Asset 8 orang terkaya sama dengan harta separuh penduduk miskin dunia

"Ledakan jumlah miliarder adalah bukan tanda ekonomi sedang tumbuh, melainkan gejala sistem ekonomi yang gagal," kata direktur eksekutif Oxfam Winnie Byanyima.

Oxfam juga menggarisbawahi nasib pekerja wanita yang "terus-terusan dibayar lebih murah ketimbang pria", dan bahkan kerap menjadi pihak yang dibayar paling rendah dan paling tidak aman bekerja.

Sembilan dari setiap 10 miliarder adalah pria, sambung Oxfam.

Laporan berjudul  "Reward Work, not Wealth" ini memanfaatkan data Credit Suisse untuk membandingkan pendapatan para eksekutif puncak dan pemegang saham dengan pekerja biasa.

Data itu memperlihatkan bahwa para kepala eksekutif lima perusahaan penghasil merek fesyen ternama cukup bekerja empat hari untuk mendapatkan bayaran yang setara dengan upah selama hidup buruh-buruh garmen di Bangladesh.


Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar