counter

Relawan bagikan pisang kampanyekan penyelamatan orang utan

Relawan bagikan pisang kampanyekan penyelamatan orang utan

Dokumentasi--Satu dari dua individu Orang utan (Pongo pygmaeus) keluar dari kandang saat dilepasliarkan di Hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Jumat (9/6/2017). IAR Indonesia bersama Balai TNBBBR dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar melepasliarkan dua individu orang utan (Pongo pygmaeus) bernama Amin dan Shila yang telah menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi IAR Indonesia. (ANTARA FOTO/Humas IAR Indonesia)

Padang (ANTARA News) - Relawan yang tergabung dalam Orangufriends Forum membagikan puluhan pisang kepada masyarakat di kawasan wisata Tugu Perdamaian Kota Padang, Sumatera Barat dalam rangka mengampanyekan penyelamatan orang utan.

"Aksi ini dilatarbelakangi oleh beberapa permasalahan yang terjadi pada orang utan seperti perburuan," kata Koordinator Orangufriend, Novi Rofika di Padang, Rabu.

Pesan yang ingin disampaikan dalam aksi ini, yakni orang utan butuh kasih sayang yang dilambangkan dengan pisang, bukan ditembaki dengan peluru.

Orangufriend Padang adalah relawan orang utan yang ikut membantu Centre for Orangutan Protection (COP) yang merupakan sebuah organisasi yang berfokus pada pelestarian dan perlindungan Orangutan di Indonesia.

Novi menyebutkan dari data yang sudah dihimpun kasus perburuan orang utan di Indonesia menggunakan senapan angin dari 2004 tercatat sebanyak 32 kasus dengan total peluru 769 peluru.

Kemudian kasus terakhir yang terjadi beberapa waktu lalu juga sangat miris, yakni ditemukannya orang utan di Kalimantan Timur dengan 130 peluru bersarang di tubuhnya. "Ini kejam sekali, untuk itu kami ingin mendorong masyarakat agar peduli dengan satwa dilindungi itu," ujarnya.

Menurutnya penyelamatan orang utan tidak bisa dipandang sebelah mata, selain menjaga kelestariannya, hal ini juga menyangkut penilaian dari negara lain yang akan membentuk opini bahwa Indonesia tidak bisa menjaga satwa liar yang dilindungi.

Selain itu untuk Sumbar, kata dia memang bukan merupakan habitat orang utan, namun masyarakat tetap harus memiliki pemahaman betapa pentingnya menjaga kelestarian satwa liar.

Untuk Sumbar permasalahannya mungkin ada pada orang utan yang ada di dua kebun binatang, yakni di Bukittinggi dak Sawahlunto. "Di kebun binatang Kandi Sawahlunto ada orang utan yang masih bayi, namun perawatanya bisa dikatakan belum layak," ujarnya.

"Bayi orang utan di sana tidak dirawat seperti yang seharusnya, untuk bayi mereka harus berada di tempat yang lebih luas dan diberi kesempatan memanjat," katanya.

Untuk itu pihaknya mendorong pihak terkait agar lebih memperhatikan kesejahteraan orang utan yang ada di dua kebun binatang tersebut. 

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar